Category Archives: Kaba Kampung

Kaba Kampung

Ramainya Kotogadang….

Dipenghujung tahun 2013 ini, Kita semua yang pulang kampung, dapat merasakan betapa bergairahnya kehidupan di Kotogadang, khususnya pada saat agenda besar Nagari yaitu kegiatan Batagak Panghulu dimana rangkaian kegiatan di Kotogadang mulai tanggal 28 November sampai tanggal 3 Desember 2013.  Tak terasa betapa ramainya kehidupan saat itu, mengingatkan penulis pada tahun-tahun 1980-an setiap acara Manutuik Rayo di Kotogadang.

Betapa tidak, keramaian di Kotogadang ini karena pada pekan yang sama, diadakan 2(dua) acara Bakampuangan Gadang jo Alek Nagari, 1(satu) acara Bakampuangan Ketek jo Sudisiasek dan 1(satu) acara Bakambang Bidai.

Seluruh rangkaian kegiatan ini dimulai dengan acara Bakampuangan Ketek Batagak Panghulu Datuk Malekewi pada hari Kamis tanggal 28 November 2013, dilanjutkan dengan Acara Bakampuangan Gadang Batagak Panghulu b.e B R A Datuk Rangkayo Basa pada hari Jum’at tanggal 29 November 2013.

Keesokkan harinya Sabtu tanggal 30 November 2013 diadakan Acara Bakampuangan Gadang Batagak Panghulu b.e R I Datuk Tan Mangedan. Pada hari minggu tanggal 1 Desember 2013 diadakan sekaligus 2(dua) acara, pada pagi hari diadakan Acara Bakambang Bidai Datuk Sari Dirajo dengan menunjuk e. Hanrozan Haznam sebagai pengganti b.e C D Datuk Sari Dirajo yang wafat pada tanggal 15 November 2013 di Jakarta dan dilanjutkan dengan Acara Alek Nagari b.e B R A Datuk Rangkayo Basa pada siang harinya. Pada hari senin tanggal 2 Desember 2013 diadakan Acara Sudisiasek e Aditiawarman Bagindo Malekewi sebagai Calon Datuk Malekewi di Balai Adat Kanagarian Kotogadang. Barulah pada tanggal 3 Desember 2013, rangkaian panjang acara Batagak Penghulu di Kotogadang ditutup dengan Acara Alek Nagari b.e R I Datuk Tan Mangedan.

Datuk Rangkayo Basa-0

Dt Tan Magedan-0

 

Penulis : Mastrialdi (Dedi) Sutan Maruhun Diatjeh

DEK SUNGSANG BIN MANYAMPILANG

oleh : Luthy. Ada gempa mahadahsyat di Aceh. Masjid utuh tapi banyak rumah yang runtuh.

Sedangkan kejadian gempa di Sumatera Barat, rumah utuh tapi masjid banyak yang rubuh.

Satu di antaranya, Masjid Tapi di Kotogadang.

MAKA bertanyalah orang kepada Engku Labai tentang makna musibah ini.

Sang Labai menjawab dengan pertanyaan pula: “Lai juo rumah Allah di kampuang angku tu?”

“Lai,” jawab si penanya.

Labai kemudian bertanya lagi : “Yo bana lai?”

“Lai, Mak Labai. Musajik tu tonggak no ampek, gadang bana. Mimbar no model saisuak pulo…”

Mak Labai tercenung sejenak, lalu berkata:”Mantun ko, sanak. Nan ambo mukasuik

lai bapakai musajik tu sasuai jo ajaran nabi kito?”

“Tantu lai, angku Labai.” “Tapi tampak diambo, tibo ukatu shalat kadang-kadang nan jadi makmum, labiah

banyak malahan tonggak musajik.” Sebagai umat beragama kita tetap menaruh keyakinan runtuhnya Rumah Allah itu bukan lantaran amarah “Allah Maha Pengasih Mahapenyayang”, tapi merupakan isyarat agar rumahNya itu sudah patut ditata-ulang.
Pertama, karena lokasinya persis di garis patahan gampo.

Kedua, jika kelak dibangun kembali bisa diisi dan difungsikan sesuai dengan ajaran Islam.

Masjid Tapi runtuh digoyang gempa tanggal 6 Maret 2007 jam 10:00. Anak nagari dari rantau berambauan pulang.

Sekitar pertengahan Maret 2007, ada seorang anak nagari yang menjanjikan dana tersedia, lalu minta supaya gambar rancangan masjid segera disiapkan.

Maka 1 April 2007 sah terbentuk Panitia Pembangunan Masjid Tapi dan Rehabilitasi Air Bersih (PPMTRIAB).

Agenda kerja panitia, antara lain menyelesaikan gambar rancangan. Lokasi harus bergeser 20 meter dari tempat semula,berarti lahan perlu diperluas. Panitia menghubungi pemilik tanah yang akan kena lokasi masjid baru.

Awalnya disebutkan gampang, bahkan dibilang tanah itu bakal diwakafkan. Namun ternyata bakatengkong alias ribet.

Sebab, rupanya panitia penghubung cuma sekadar kontak halohalo dan sms.

Tidak langsung ketemu muka dengan pemilik,komunikasi sempat menimbulkan salah paham.

Terutama soal luas tanah yang akan dipakai.Dalam rapat panitia disebutkan perlu 1.500 m2, tapi yang sampai ke telinga pemilik hanya 50 m2. Dan jumlah inilah yang kemudian dicantumkan sebagai wakaf oleh pemilik dalam surat pernyataan tertanggal 6 Juni 2007.
Sementara itu, gambar rancangan rampung medio April 2007, dan di-acc di Jakarta serta Kotogadang,akhir April 2007. Giliran lokasi diukur, hasilnya banyak nan manyampilang alias tak cocok dengan rencana.

Misalnya, semula Surau Baru Inyiak Janus disetujui pemilik untuk dibongkar, ternyata batal.

Tanah persawahan yang tadinya perlu 1.500 m2, jadinya 1.220 m2. Dan pemilik tanah bersedia mewakafkan 350 m2 saja, sedangkan sisanya harus dibayar panitia Rp 74 juta. Itu dilunasi November 2007.

Biaya total pembangunan masjid sekitar Rp 1,8 milyar. Dana dihimpun sejak pertengahan Maret 2007 sampai dengan Juni 2007 berjumlah Rp 450 juta, yang mengalir dari anak nagari,dan sampai dengan Januari 2008 terkumpul sekitar Rp 1 milyar.

Lalu terdengar cerita dari Pemerintah Daerah Sumatera Barat akan menyumbang Rp 300 juta.

Bak kato Nabi, serahkan suatu pekerjaan kepada ahlinya, maka Juni 2007 penanggung jawab teknis sudah menyelesaikan gambar rancangan secara rinci. Ongkos pembuatan gambar itu Rp 45 juta, terbilang murah menurut ukuran biro arsitek.
Tapi sampai kini panitia belum membayarnya, dan Biro Arsitek “Atelier 6” pun belum mendesakkan pembayaran. Satu dari copy gambar rancangan itu diminta oleh ketua panitia, dijojokan katanya ada yang akan menyandang dana penuh. Disebutkan seluruhnya Rp 2,5 milyar.

Untuk pelicin aliran dana itu, katanya lagi, perlu 10% dari jumlah tersebut.

Lalu Rp 250 juta disisihkan ke rekening lain panitia, November 2007. Berjalan sekian bulan,

ternyata sang penyandang dana tak kunjung mencogok. Gambar siap, lahan pun siap, sebagian dana tersedia,maka lapangan pun ditata. Sesuai gambar perlu dibikin turap selingkar lahan, dan harus ditimbun.

Nah, proses pelaksanaannya bakatengkang karena masuk “orang yang bukan ahlinya”, dan mengabaikan samasekali “sang ahli”. Gara-gara cara kerja sungsang ini terjadilah surat berbalas surat, sms berjawab sms.

Suasana kerja panitia pun menjadi tegang tak menentu. Walhasil, PPMTRIAB kemudian diambilalih Ninik Mamak Penghulu Nan 24, pada 5 Februari 2008.

Lalu pengurusnya direshuffle: ketua panitia dan sang ahli dikeluarkan, serta ditetapkan panitia tidak lagi diisi dengan personil yang berstatus pemangku adat.
Alam takambang jadikan guru, kata sebuah petuah terkenal di Minangkabau. Runtuhnya masjid dihoyak gempa di kampung, Subhanallah, sungguh tidak diharapkan berbuntut runtuhnya pula marwah intelektualitas urang Kotogadang yang tersohor.

Mudah-mudahan kejadian ini jangan sampai terdengar oleh jurucatat

Museum Rekor Indonesia (MURI) : ada panitia pembangunan masjid bubar sementara masjidnya belum jadi……

Kotogaang Berduka Lagi

kotogadang berduka
Allahuakbar… Allahuakbar
Ampunilah kami ya Allah
Maafkanlah kami ya ALlah

Ampunilah generasi Kotogadang yang lemah
dan tidak berdaya ini…
Untuk rumahMu yang suci
kami belum bisa membangunnya

Kesombongan yang membuat kami khilaf
Kekuasaan yang manjadikan kami lupa diri
Karena keangkuhan banyak kerja terbengkalai
Karena kearoganan banyak bahan jadi mubazir
dan terbuang percuma…

Kami malu ya Allah
Kami malu dengan diri kami sendiri
Kami malu dengan para pendahulu kami
dan malu dengan nenek moyang kami

Yang dulu mereka Engkau ciptakan
bisa menjadikan Nagari Kotogadang ini
Bagai mutiara dimata orang lain

Namun sekarang
semua bagai tiada arti…

Ya Allah.. ya Robbi
Berikanlah kami kembali hati nurani
Yang bisa melihat kesalahan ini dengan hati yang suci

Maafkanlah kami ya Allah
Kalau diantara kami ada yang salah
Menjalankan amanah yang dititipkan kepada kami
Ampunilah kami ya Robbi
Sesungguhnya kami lemah
Dan tiada berdaya

KATITIRAN DIUJUANG TANDUAK

Waktu berjalan begitu cepat… terasa baru kemaren aku melihat Angku Pakiah di surau Hilia mengaji sementara kami bermain dihalaman mesjid berlarian kesana kemari.

Terasa baru juma`at kemaren Angku Imam dimesjid Tapi berkhotbah diatas mimbar, sementara kami bercanda dengan berbisik-bisik di barisan belakang jemaah ju`mat.

Tidak ada satupun dari kita bisa menahan WAKTU.

Hari ini tanggal 30 januari 2008 disuatu tempat perbaikan mobil duduk seorang pria tua sedang membaca buku. Rambutnya sudah putih, wajah bersih, berpeci. Dari perawakannya masih nampak kegagahan beliau diwaktu mudanya. Untuk daerah Sumatera Barat sampai ke Malaysia mungkin wajah beliau tidak asing lagi…Buya Masoed Abidin, ketua MUI Sumatera Barat yang merupakan salah satu putra dari Angku Pakiah (ALM). Beliau sekarang sudah tua dan aku tidak anak-anak lagi.

Keberanian ku datang, batinku terpanggil untuk bersalaman dan ingin bertukar pikiran. Kesempatan tidak akan dating 2 x… Assalamu`alaikum Buya….?! Wa`aikumsalam w.w jawab Beliau.

Sedikit berbasa basi aku langsung memperkenalkan diri, dari nama.. anak siapa sampai cucu dari siapa, agar beliau bisa mengingat generasi dulu diwaktu beliau berada di Kotogadang. Ingatan beliau sangat tajam bahkan beliau masih ingat tokoh-tokoh agama dimasa dulu di kampung, mulai dari Angku Zalib, Angku Imam, Inyiak Aman (walinagari) dan lain-lain. Bahkan sampai beliau bercerita tentang putra Kotogadang yang menjadi Panglima terakhir Tuangku Imam bonjol yaitu Syeh Abdurrahman yang mayatnya dibuang belanda kedalam ngarai.

Pembicaraan semangkin hangat ketika menyangkut Nagari kecil Kotogadang disebut. Betapa bangganya aku ketika beliau berkata : Ambo tidak akan seperti sekarang ini kalau tidak terminum air Nagari Kotogadang.

Beliau begitu bersemangat ketika membahas Kotogadang dimasa penjajahan dulu sampai merdeka.

Banyak diantara putra-putra Kotogadang yang siap mati dan berkorban untuk Nagari maupun Negara. Ketika Kotogadang dihadapkan kepada masalah pelik menghadapi keadaan waktu itu yang sangat sulit, pergolakan begitu banyak menelan korban baik harta maupun nyawa, Kotogadang berada dalam situasi yang sangat genting. Namun bagi Ninik Mamak dan orang bijak putra-putra Kotogadang waktu itu situasi ini dihadapi dengan OTAK bukan dengan OTOT.

Misi diatur dan dipikirkan bersama hingga situasi yang bagaikan TELUR DIUJUNG TANDUK tadi dijadikan seperti KATITIRAN DIUJUNG TANDUK.

Nagari aman dari ancaman yang datang, bahkan misi bukan hanya menyelamatkan Nagari tapi lebih besar lagi. Para pemuda Nagari dan para intelektual bersama-sama menuntut ilmu dan belajar…. Bahkan sampai kenegeri Belanda.

Hingga Ilmu tadi bisa mengantar mereka untuk memegang tampuk-tampuk pemerintahan dan memegang kunci-kunci penting untuk mengatur dan menentukan. Dengan cara itu terbukti berapa banyak putra Kotogadang yang mengukir nama dalam menentukan dan merintis kemerdekaan Republik ini.

Namun mereka tidak pernah lepas dari nafas islami, sehingga mereka tidak lupa diri dan tidak lupa dengan nagari tempat kelahiran serta tanggung jawabnya untuk Negara. Semua itu pun sudah terbukti dan diakui dunia.

Bung Karno dibuku tamu Kotogadang menulis “ Negeri kecil yang menentukan perubahan Dunia “ ini salah satu bukti pengakuan yang ada.
Disaat itu… Kotogadang memiliki Alim Ulama yang handal, Ninik mamak yang Sadanciang bak Basi saciok bak Ayam, rasa cinta kampung yang sangat tinggi.

Melihat bentuk balai adat dikotogadang yang mereka bangun, melambangkan “ KOTO PILIANG INYO INDAK BUDI CANIAGO ANYO ANTAH“. Suatu falsafah adat yang tidak ada di daerah lain nya di Minangkabau. Disinilah letak istimewanya

Kotogadang. Mereka sudah membuat dan menjalankan DEMOKRASI dari dulu dikampung kecil ini, sementara orang lain meneriakan itu baru sekarang.

Satu-satunya nagari di Minangkabau yang menyatukan kedua kubu dalam satu wadah diatas Balai Adat antara Koto Piliang dan Budi Caniago yang jelas-jelas bertolak belakang. Namun di Kotogadang ini bisa dilakukan dan ada sampai sekarang… Alahuakbar hebat sekali.
Melihat bentuk Balai Adat di kotogadang di kedua ujung ruangan lantai ditinggikan dikedua sisinya. Secara sederhana dalam kehidupan bisa kita artikan ada tempat yang lebih tinggi atau dimuliakan bagi orang yang lebih tua dari pada kita.

Karena itu Balai Adat, berarti ada tempat bagi beliau Engku Datuak yang memang sudah sarat dengan pengalaman, ilmu apalagi umur dan memangku jabatan Datuak di Nagari Kotogadang yang harus di dahulukan salangkah ditinggikan sarantiang dilingkaran Ninik Mamak yang ada… mendapat tempat yang seharusnya.

Saat ini siapa yang meragukann Beliau Engku Dt.Magek Labiah untuk menduduki tempat yang ditinggikan tadi diatas Balai Adat itu ? Dari mulai Ilmu yang dimiliki sampai pengetahuan dan pengalaman beliau sebagai seorang Datuak di Kotogadang, apalagi rasa cinta kampung yang beliau miliki, kalau masalah umur ? Usia beliau sudah 84 tahun…

Dengan kehadiran beliau untuk memutuskan hal-hal penting untuk nagari Kotogadang saya yakin akan dapat meredam semua perbedaan yang timbul dikalangan Ninik mamak. Tapi kenapa beliau tidak pernah dihadirkan untuk hal-hal seperti itu ?

Saya masih ingat dalam acara Halal bi halal warga Kotogadang di Padang Tahun 2007 kemaren, disaat acara sedang berjalan saya tersentak melihat beliau datang memasuki ruangan dengan bersemangat. Semua tau kalau beliau dalam keadaan sakit, dengan sangat terharu saya hentikan acara dan saya himbau kepada seluruh warga yang hadir unuk menyambut beliau. Betapa tergugahnya kami disaat itu melihat semangat yang beliau perlihatkan.

Suatu berkah bagi semua yang hadir karena pada saat itu lengkap seluruh Ninik mamak yang berdomisili di Padang hadir. Mulai dari Be.Dt.Magek Labiah, Be.Dt.Toemangguang, Be.Dt.Bandaro Basa dan Be.Dt.Rangkayo Basa.

Untuk acara yang hanya seperti itu beliau tetap ingin hadir, apalagi kalau acara besar yang menyangkut tugas dan tanggung jawab beliau sebagai seorang Penghulu.

Pemikiran beliau sangat diperlukan, ilmu beliau tentang adat kotogadang sangat matang…

karena waktu tidak bisa kita tahan, dikampung Kotogadang sudah banyak kehilangan orang-orang yang tau tentang adat, yang mengerti tentang kehidupan banagari, maka sudah saat nya bagi kaum CADIAK PANDAI untuk merumuskan secara tertulis ketentuan ADAT SALINGKA NAGARI KOTO GADANG.

Yang akan menjadi pedoman, acuan tertulis bagi Ninik Mamak, walinagari dan seluruh anak nagari dalam menjalani hidup sesuai dengan Norma-norma yang ada di Kotogadang.

Kita yakin hal ini sudah dilakukan oleh para cadiak pandai namun belum dibuat dalam bentuk tertulis. Selagi masih ada tempat bertanya, selagi masih ada yang bisa kita lakukan kenapa tidak dimulai.

Kembali penulis ingatkan “ KITA TIDAK BISA MENAHAN WAKTU”

Supaya Kotogadang tidak berada seperti Talua diujuang tanduak menghadapi keadaan seperti sekarang ini.

Apabila hal ini tidak cepat diatasi dan diselamatkan maka talua diujuang tanduak tadi akan jatuh dan pecah.

Selamat tinggal Kotogadang yang penuh kenangan, yang hanya tinggal nama, NAMUN…. Kalau kita bisa jadikan dia seekor KATITIRAN …. Maka akan selamatlah generasi yang akan datang.

Kotogadang bukan hanya cerita tapi sudah punya pedoman Adat dalam bentuk tertulis.. yang bisa dibanggakan.
ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH.

SYARAK MANGATO ADAT MAMAKAI.

Semoga ini menjadi renungan kita bersama…. Terimakasih Buya Mas`oed.

RG St.Sinaro

SAROK TAPI

Ngarai Sianok Objek Wisata Terbaik Sumbar 2007

PADANG—MEDIA:

Panorama Ngarai Sianok di perbatasan Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam, terpilih sebagai Objek Wisata Terbaik di Sumbar dan meraih penganugerahan Padang Tourism Award 2007, karena mampu cepat pulih pascakerusakan berat akibat gempa 6,4 SR Maret 2007.

“Ngarai Sianok pantas menjadi yang terbaik, karena pengelola, pelaku dunia wisata, dan pemerintah daerah setempat cepat melakukan pembenahan pascaruntuhnya tebing-tebing ngarai oleh gempa, sehingga kini kembali menawan dan menjadi daya tarik panorama alam yang alami,” kata Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi di Padang, Jumat (28/12).

Hal itu disampaikannya, menanggapi terpilihnya Panorama Ngarai Sianok sebagai Objek Wisata Terbaik di Sumbar pada penganugerahan Padang Tourism Award (PTA) 2007 di Padang, Kamis (27/12) malam.

PTA digelar untuk kedua kalinya atas kerja sama Forum Wartawan Pariwisata Sumbar (FWPSB), Asita Sumbar, Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumbar, serta Dinas Pariwisata Seni dan Sumbar.

Selain objek wisata terbaik, penganugerahan PTA-2007 juga diberikan bagi hotel kelas bintang terbaik, hotel kelas melati terbaik, biro perjalanan wisata terbaik, restoran terbaik, spa terbaik, toko/pusat souvenir terbaik, dan tokoh pariwisata terbaik.

Terpilihnya Ngarai Sianok sebagai objek wisata terbaik cukup mengejutkan, karena sebelumnya kawasan itu ditimpa bencana menyebabkan banyak tebing-tebingnya yang runtuh pascagempa tektonik 6,4 SR, pada 6 Maret 2007.

Ngarai Sianok berhasil mengalahkan objek wisata Pantai Padang, kawasan wisata tambang di Sawahlunto, Pantai Carocok di Pesisir Selatan, Embun Pagi di Agam, Danau Kembar di Kabupaten Solok, Lembah Harau di 50 Kota dan Anai Resort di Padang Pariaman.

Terpilihnya Ngarai Sianok, berdasarkan kuisioner yang dibagikan panitia kepada para wisatawan nusantara dan mancanegara serta penilaian dewan juri indenpenden yang ditunjuk FWPSB selaku penyelenggara PTA 2007.

Ngarai Sianok dan pengelolanya dinilai mampu menyajikan, melayani, mempromosikan dan mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya di objek wisata alam tersebut.

Ngarai Sianok merupakan sebuah lembah curam yang memanjang dan berkelok dari selatan Ngarai Kotogadang sampai di Ngarai Sianok Enam Suku, dan berakhir sampai daerah Palupuh, Agam serta memiliki pesona pemandangan yang indah.

Ngarai ini memiliki kedalaman sekitar 100 meter membentang sepanjang 15 kilometer dengan lebar sekitar 200 meter. Patahan-patahan ngarai membentuk dinding yang curam, bahkan ada yang tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau, hasil gerakan turunnya kulit bumi (sinklinal) di masa lalu.

Di bawah ngarai mengalir Sungai Batang Sianok berair jernih dan terdapat hamparan persawahan menghijau dan perkebunan rakyat di antara dua ngarai.

Keindahan pesona alam, Ngarai Sianok membuat daerah ini ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara sehingga menjadi salah satu andalan Sumbar dan Indonesia di sektor pariwisata. (Ant/OL-03)

Sumber: Media Indonesia Online

Suksesnya Pencairan Bantuan Korban Gempa Tergantung Kebenaran Data

Agam, Singgalang .
Sukses atau tidaknya pencairan dana bantuan korban gempa Maret lalu, tergantung pada kebenaran data, terutama soal data rumah masyarakat yang rusak serta infrastruktur lainnya. Guna menghin­dari adanya kekeliruan data, mesti dilakukan sosialisasi dan pengumuman terhadap calon penerima bantuan. Untuk masalah ini, Pemkab Agam tidak menginginkan saat di­cairkannya dana bantuan bencana ditemukan kekeliruaan data. Dampak dari data yang salah itu jelas tidak menyentuh semua masyarakat yang terkena korban bencana alam serta merugikan warga. Sebelum Pemkab mencairkan dana tersebut, bakal digelar sosialisa­si dengan mengumumkan hasil data sementara nama-nama pemilik rumah yang mengalami rusak akibat gempa. Dengan dilaksanakannya sosialisasi dan pengumuman daftar nama sementara, bisa diharap­kan adanya masukan jika ada masyarakat yang tidak terdaftar namanya dalam data dimaksud.

“Ini lebih bagus ketimbang nanti muncul masalah. Lagi pula, yang menjadi rugi lantaran kesalahan data adalah masyarakat yang menjadi korban gempa,” sebut Wakil Bupati Agam, Ardinal Hasan menjawab Singgalang kemarin di Lubuk Basung. Dikatakan, bila ada warga yang tidak tercantum namanya, masih ada harapan untuk segera melaporkannya pada tim nagari atau kabupa­ten. Begitu juga sebaliknya. “Nah, bila tak ada masalah lagi, maka bantuan baru bisa di­cairkan. Kita sangat hati-hati sekali dalam masalah pencairannya. Jangan sampai pula ada pepatah, rumah sudah, tokok babunyi ,” ucap wabup lagi. Disebutkan, bantuan bencana ini bakal digulirkan secara bertahap. Tahap pertama tidak ada masalah, maka dilanjutkan tahap kedua. Untuk itu, peran walinagari sangat diharapkan sekali. Karena, walinagari paling tahu dengan kondisi masyarakatnya. Apalagi, walinagari sering berhadapan langsung dengan rakyatnya.

“Kita minta walinagari berperan aktif soal yang satu ini,” pinta Ardinal. Sebelumnya, Wakil Bupati Ardinal, dalam rapat dengan tim kenagar­ian dan tim kecamatan beberapa waktu lalu, mengatakan sebelum bantuan dicairkan terlebih dahulu dilakukan uji kebenaran data yang sudah ada. Kalau memang kebenaran data itu sudah benar, maka dana bantuan itu dicairkan sesuai dengan ketentuan. “Uji publik lewat sosialisasi juga mempunyai waktu yang cukup panjang. Dengan harapan masyarakat dapat menyampaikan hal-hal yang mungkin untuk perbaikan data calon nama-nama penerimaan bantuan itu. Tidak tertutup kemungkinan terdapat kekurangan atau kelebihan,” ulasnya lagi. Selain itu, kepada para camat dan walinagari sebagai tim verifi­kasi diminta supaya segera menyampaikan kepada tim kabupaten. Bila terdapat kesalahan pada daftar nama-nama sementara yang ditempelkan pada lokasi-lokasi strategis, secepatnya diperbaiki. n216

Sumber: Singgalang Online

PP 84/99 Bisa Berimbas Pemekaran

Lubukbasung, Padek–Polemik rencana pelaksanaan PP 84 tahun 1999 tentang perluasan Kota Bukittinggi yang mengambil wilayah potensial Kabupaten Agam kian menghangat. Pemerintah pusat melalui Mendagri meminta Kabupaten Agam bersikap dalam waktu sepekan dan segera melaporkannya ke Depdagri.

Sumber Padang Ekspres di Depdagri menyebutkan, hasil pertemuan Bupati Agam Aristo Munandar dan Wali Kota Bukittinggi Djufri dengan Dirjen PUM Depdagri disebutkan, Agam diberi tenggat waktu sepekan untuk ”menuntaskan” polemik itu di tingkat daerah dan melaporkan hasil keputusannya ke Mendagri, agar PP 84/99 itu bisa segera dilaksanakan. Disebutkan sumber Padang Ekspres, PP 84/99 sendiri, ditekankan harus dilaksanakan, bahkan hal itu menjadi salah satu bahasan khusus dalam rapat koordinasi gubernur se-Indonesia di Surabaya beberapa waktu lalu. Malahan hal itu juga menjadi agenda bahasan khusus dalam pertemuan segitiga yang dilakukan Ditjen PUM, Bupati Agam dan Wako Bukittinggi, Senin (18/2) lalu.

Tiga ketua fraksi di DPRD Agam, seperti Arman J Piliang, Ketua Fraksi Golkar, Syafruddin Ketua Fraksi PKS dan Zulpardi Ketua Fraksi PAN secara tegas menentang pelaksanaan PP 84/99 tersebut. Ditegaskannya, sikap DPRD Agam bersama mayoritas masyarakat Agam sudah jelas dan tegas, menolak pelaksanaan PP 84/99. Bahkan sudah ada opsi lain yang diajukan masyarakat dengan pembentukan Kabupaten Agam Tuo. Dalam artian untuk mengatasi kebuntuan masalah PP 84/99 tersebut, harus dilakukan pemekaran Kabupaten Agam. Hal itu tegas Arman J Piliang, sudah disampaikan ke berbagai pihak termasuk pemerintah pusat, di mana sebutnya masyarakat sudah jenuh dengan pertentangan dan pro-kontra yang nyaris bermuara pada tindakan anarkis.

”Kami berupaya meredam hal itu dengan menyampaikan aspirasi masyarakat ke berbagai lembaga negara. Mestinya hal itu menjadi catatan penting dan diharapkan pemerintah pusat menyikapi hal itu,” tegas Arman. Hal senada diungkap Syafruddin yang meminta pemerintah pusat bersikap arif, dengan merealisasikan aspirasi masyarakat Agam. Sikap Agam jelas menolak pelaksanaan PP 84/99. ”Kita berharap opsi pemekaran daerah menjadi salah satu solusi strategis dalam mengatasi polemik rencana perluasan wilayah Kota Bukittinggi itu. Kita mengantisipasi terjadinya gejolak di tengah masyarakat,” tukas Syafruddin. Di sisi lain Zulpardi, Ketua Fraksi PAN menegaskan, pihaknya berpegang pada aspirasi masyarakat. Warga menyampaikan aspirasi penolakan terhadap PP 84/99 dan itu sudah diputuskan DPRD Agam.

”Sikap dewan sudah final,” ujarnya. Solusi pemekaran, sangat efektif untuk mengatasi kemelut yang terjadi dan diharapkan, pemerintah pusat bisa menganalisa lebih dalam sehingga pro-kontra bisa diatasi dengan elegan. Informasi yang diperoleh Padang Ekspres, pemerintah pusat menjadikan PP 84-1999 salah satu agenda penting yang harus dilaksanakan, mengingat keputusan pemerintah tersebut cukup lama terkatung-katung tanpa arah yang jelas. (*)

Sumber : Padang Ekspres