Tuesday , 2 June 2020
Breaking News
Keindahan Songket Tua Minangkabau

Keindahan Songket Tua Minangkabau

Saat ini, ketika orang di Jakarta berbicara mengenai songket, umumnya yang akan muncul adalah songket dari Palembang. Mungkin karena Palembang memiliki artisan dan pedagang songket yang giat mempromosikan songket daerah itu di Ibu Kota.

Karena itu, pameran Revitalisasi Songket Minangkabau di Galeri Cemara 6 di Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta, yang berlangsung sampai Kamis (23/11) membangkitkan rasa ingin tahu tentang perkembangan songket dari sana. Apa lagi pameran mengangkat tema revitalisasi, artinya ada sesuatu yang dibangkitkan kembali. Sayangnya, Ny Mufidah Jusuf Kalla batal membuka pameran pada Kamis (16/11) malam.

Keingintahuan itu terjawab ketika menyaksikan puluhan songket tua berusia 100-an tahun berdampingan dengan songket lama yang direproduksi.

Inilah hasil kerja tim Studio Erika Rianti yang terdiri dari Bernhard Bart, arsitek asal Swiss, yang menaruh minat pada kain tradisi; Erika Dubler, istri Bart; Nina Rianti, seniman Minang dan suaminya, Alda Wimar; dan Nanda Wirawan, pemimpin studio ini.

Mereka memulai dengan mendokumentasi motif kuno yang masih tersisa di Minangkabau dan di berbagai museum, antara lain di Museum der Kulturen Basel dan Historisches Museum Bern di Swiss selain Museum Adityawarman di Padang, serta di toko barang antik.

Ketika jumlah koleksi foto kain songket kuno mencapai ribuan, Nina memunculkan gagasan menenun ulang songket tersebut. Masalahnya, seperti yang tampak di ruang pamer Cemara 6, motif kuno itu indah, sangat rumit, halus, bersih, dan rapi bahkan pada bagian belakang kain. Kain-kain berbenang sutra dan emas itu tampak anggun dengan tepian dihias rajut tangan atau meriah oleh rumbai.

Revitalisasi

Upaya merevitalisasi songket itu berangkat dari kenyataan, kini hampir tidak ada lagi songket Minangkabau yang kualitasnya menyamai songket pada masa lebih dari 100-an tahun lalu. Kebutuhan melayani pasar menyebabkan perajin membuat motif sederhana.

Pembuatan songket dengan motif halus dan rumit tidak lagi dikerjakan karena waktu pembuatannya lama, sulit, dan terbatas acuan pada teknik pembuatan motif lama.

Menenun sehelai selendang, menurut Reno (17), penenun yang didatangkan ke Cemara 6 bersama alat tenunnya, butuh waktu tiga bulan, sementara kain panjang bisa enam bulan.

Padahal, songket untuk masyarakat Minang bukan sekadar barang pakai. Seperti umumnya pada masyarakat Asia, kain menceritakan filosofi hidup. Motif pucuak rabuang (pucuk rebung), menyiratkan waktu muda sudah berguna apalagi ketika dewasa; motif kaluak paku (lekuk pucuk pakis) menggambarkan sebelum mengoreksi kesalahan orang harus melihat ke dalam diri sendiri; atau motif itiak pulang patang (itik pulang petang) yang distilisasi, menggambarkan kehidupan perantau Minang yang merantau karena kesulitan hidup di kampung halaman, tetapi akan mudik bersama seraya membawa pulang peruntungan di perantauan.

Cermin

Berbeda dari anggapan kebanyakan orang awam saat ini bahwa gudangnya tenun Minang adalah Pandai Sikek, kain-kain tua itu memperlihatkan Nagari Kotogadang di Agam adalah penghasil utama songket indah dan cerdas pada masa lalu. Daerah lain penghasil songket berkualitas, antara lain Nagari Tanjung, Kecamatan Sungayang (Tanah Datar), Padangmagek, dan Muarolabuah.

”Sekarang tidak ada lagi yang menenun di Kotogadang. Mungkin karena kota itu dua kali terbakar. Terakhir tahun 1880,” ujar Alda Wimar dan Nina Rianti. ”Alat tenun habis, penenun tidak punya modal lagi.”

Dapat dikatakan, perkembangan songket Minang adalah cermin perubahan masyarakat yang semakin terbuka pada pasar. Keluhan semacam ini bukan hanya pada songket Minang.

Batik juga mengalami kesulitan dalam regenerasi yang dapat membatik sehalus pembatik pada awal abad lalu. Upah yang tidak setara dengan curahan tenaga kerja menyebabkan regenerasi itu berjalan seret. Padahal, batik dianggap ikon seni budaya Indonesia.

Dan kini, ada upaya revitalisasi kejayaan songket Minang yang dilakukan sepenuhnya oleh anggota masyarakat. Ada baiknya masyarakat Minang dan Indonesia mencontoh upaya ini. (Ninuk Mardiana Pambudy)

Sumber: Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top