| barando | tentang kotogadang | buku tamu | kirim artikel | download | webmail | contact | controlpanel |
 
   Barando
Tentang Kotogadang
Letak Geografis
Demografi
Foto Udara

   Interaktif
Download
Rubrik
About Us
Web Links

   Pemerintahan Nagari
Bamus Nagari
Wali Nagari
MAMAS
MUNA
LPMN
Peraturan Nagari

   Organisasi Kemasyarakatan
Karang Taruna
PKK
Yayasan Kotogadang
Yayasan Amai Setia
IIKG
Kanti Gandano
PKS Padang
Mudo Sakato

   Ninik Mamak Penghulu Nan XXIV
Suku Guci/Piliang
Suku Koto
Suku Caniago
Suku Sikumbang

   Nagari Pusako
Konsep Nagari Pusako
Jelajah Nagari
Deklarasi
Green Map
BPPNKG
Peta tata ruang

   Galeri Foto
Bentang Alam
Kerajinan tangan
Kotogadang Tempo Dulu
Arsitektur
Mesjid Tapi paska gempa
Keadaan bangunan paska gempa
Pengungsi
Ngarai Sianok runtuah
Masjid Tapi tempo doeloe

   Statistik

   FAQ

   Buletin Nagari
Hutan Ulayat
Kawasan Pusaka
Bisnis dan Ekonomi
Seni dan Budaya
Agama
Event
Kaba Kampuang
Kaba Rantau
Tokoh

   Pesan Singkat
Nama*
Email
Pesan*
*harus diisi

   Statistik Web
  Visitors : 139990 visitors
  Hits : 26955 hits
  Month : 788 users
  Today : 35 users
  Online : 5 users

   Sindikasi Berita





 


   Chatting
Enter Chatroom
Nick Name:

   


Kartini atau Rohana
Senin, 21 April 08 - oleh : admin

Oleh : Asmanidar, Pemerhati sosial dan Perempuan

Besok, kita akan memperingati hari Kartini. Hari tersebut merupakan tanggal lahir perempuan pada 21 April 1879, yang selama ini dijadikan sebagai titik tolak untuk inspirasi dan kekuatan moral bagi kaum perempuan di Indonesia. Lahirnya Raden Ajeng Kartini yang dijadikan sebagai srikandi Indonesia yang begitu dipuja. Sungguh luarbiasa, seorang Kartini melalui kumpulan surat-menyuratnya “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi inspirasi dan ilham bagi jutaan perempuan Indonesia untuk dapat sejajar dengan kaum pria.

Namun dalam tulisan ini, saya ingin sedikit memberikan penyadaran bahwa kita harus mengakui sebuah pepatah, “Tungau di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak”. Begitu mengagungkan Kartini, kita seakan lupa akan sebuah mutiara Ranah Minang sendiri. Dia Rohana Kudus, seorang srikandi Ranah Minang yang di kampungnya sendiri (Sumbar) malah juga tak begitu dikenal. Tidak banyak dari kita yang tahu siapa gerangan Rohana Kudus. Menyebut namanya, di tingkat lokal saja, kita mungkin cuma tahu, itu adalah nama jalan, nama gedung, nama usaha kripik balado di Kota Padang, dan sebagainya. Tapi soal kiprahnya? Hanya segelintir yang tahu, itupun mungkin tidak persis detilnya.

Perempuan yang lahir di Kotogadang, Bukittinggi 20 Desember 1884, adalah anak sulung dari pasangan Moehammad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam ini adalah wanita multi intelegensi. Bukan saja tercatat sebagai wartawan perempuan pertama Indonesia saja dengan mendirikan surat kabar Sunting Melayu, dia juga menjadi pelopor pendidikan dengan mendirikan sekolah keterampilan Kerajinan Amai Setia (KAS) yang merupakan permulaan industri rumah tangga (home industry) di Minangkabau dan penggerak politik perempuan pertama di ranah Minang.

Bagaimana dengan Kartini, ternyata orang yang selama ini dipuja-puja sebagai perintis emansipasi wanita di tanah air, ternyata kalah start dari Rohana. Jauh sebelum Kartini menuntut ilmu di sekolah perempuan Rembang, Rohana Kudus dan teman-temannya telah merintis ‘komunitas’ perempuan Koto Gadang untuk melek huruf! Tapi Kartini, malah rela dipingit, lalu menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri.

Tapi bayangkan betapa hebatnya kakak tiri Sutan Syahrir (perdana menteri pertama RI) ini, di saat yang lain belum melek membaca, alias buta aksara, dia sudah tampil sebagai “guru kecil” di usianya yang masih 8 tahun di tahun 1892. Kepadanya, rekan-rekan sebayanya belajar bermain sambil membaca.

Di usianya yang matang, sebelum dan setelah menikah dengan Abdul Kuddus, melalui perjuangan hidup yang jatuh bangun, mengalami berbagai benturan sosial dengan pemuka agama, adat, dan masyarakat umum, Rohana dipuji dan dikagumi, tetapi sekaligus difitnah dan dicaci maki, sehingga terpaksa meninggalkan kampung halamannya. Dia tetap berjuang, malah mendirikan Rohana School, sekolah kepandaian perempuan di Bukittinggi.

Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukiktinggi melalui Ngaraik Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payokumbuah dengan kereta api.

Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuak Pakam dan Kota Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Cina Melayu di Padang dan surat kabar Cahaya Sumatra. Perempuan yang wafat pada 17 Agustus 1972 itu mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara, serta menjadi kebanggaan bagi kaum hawa yang diperjuangkannya.

Penghargaan dari Pemprov Sumbar juga pernah didapatkannya, yaitu pada 17 Agustus 1974 sebagai wartawati pertama. Dan pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987, Menteri Penerangan, Harmoko telah pula menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia. Bagaimana dengan Kartini, kumpulan surat-menyuratnya yang keasliannya sampai saat ini sulit ditunjukkan menjadi pahlawan perempuan sampai menjadi salah satu hari besar Indonesia. Sedangkan Rohana.... (***)

Sumber : Padang Ekspres

  kirim ke teman |   versi cetak


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Formulir Komentar | Aturan >>

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar

 
   
   Pencarian

cari di  
 

   Jajak Pendapat
Setujukah anda Kotogadang masuk wilayah Kota Bukittinggi?.

Setuju
Tidak Setuju


   Top Download
Peraturan Nagari No. 02 Tahun 2002 (1452)
Peraturan Nagari No. 04 Tahun 2002 (1450)
Peraturan Nagari No. 05 Tahun 2002 (1360)
Peraturan Nagari No. 03 Tahun 2002 (1201)
The History of Sumatra (891)
Laporan Bencana Gempa Bumi Kab. Agam (885)
Perda Prop. Sumatra Barat No. 09 Tahun 2000 (884)
Peraturan Menteri Agraria Nomor 5 Tahun 1999 (878)
Peraturan Pemerintah no. 84 tahun 1999 (735)

   Link Terbaru
Suaro Kotogadang
[Added: 30-Jun-2008]
Minangkabau.Info
[Added: 02-Mar-2008]
Cimbuak.net
[Added: 02-Mar-2008]
Melayu Online
[Added: 02-Mar-2008]
Pemerintah Kota Bukittinggi
[Added: 02-Mar-2008]
Situs Resmi HKI
[Added: 06-Feb-2008]
EraMuslim
[Added: 24-Mar-2007]
West Sumatra
[Added: 05-Sep-2006]
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
[Added: 22-Aug-2006]
Pemerintah Propinsi Sumbar
[Added: 05-Aug-2006]
Tampilkan situs Anda di sini.
» Tambah link baru
» Browse link

   Artikel Terakhir
Kotogadang Dukung Rang Sumbar Baralek Gadang
Instalasi Air Bersih Nagari Koto Gadang Diresmikan
Ngarai Sianok Akan Dilengkapi "SKY Line"
Transformasi Nilai-nilai Budaya Minangkabau
Karena Saya Indonesier
Pemkab Agam Dukung Gebyar Seabad HKN
DEK SUNGSANG BIN MANYAMPILANG

   Buku Baru!
Adat Istiadat Kotogadang
Edisi perdana Oktober 2005 Penyusun : Heratina Mahzar
Hubungi : Ibu Hera, tlp. +62 752 31044.

Pakaian Tradisional Kotogadang
Edisi perdana Oktober 2005
Penyusun : Sita Dewi Razni, Mity J. Juni, Rebecca Dahlan.Penerbit : Yayasan Kerajinan Amai Setia
Hubungi: Ibu Sita Razni Tlp. +62 811 144123

   Mailing List
Gabung di milis kotogadang
Powered by: asia.groups.yahoo.com

   Forum Diskusi

 

Powered by SeniRupa.Net. Kotogadang © 2006, Pemerintah Nagari Kotogadang bekerjasama dengan SeniRupa.Net