| barando | tentang kotogadang | buku tamu | kirim artikel | download | webmail | contact | controlpanel |
 
   Barando
Tentang Kotogadang
Letak Geografis
Demografi
Foto Udara

   Interaktif
Download
Rubrik
About Us
Web Links

   Pemerintahan Nagari
Bamus Nagari
Wali Nagari
MAMAS
MUNA
LPMN
Peraturan Nagari

   Organisasi Kemasyarakatan
Karang Taruna
PKK
Yayasan Kotogadang
Yayasan Amai Setia
IIKG
Kanti Gandano
PKS Padang
Mudo Sakato

   Ninik Mamak Penghulu Nan XXIV
Suku Guci/Piliang
Suku Koto
Suku Caniago
Suku Sikumbang

   Nagari Pusako
Konsep Nagari Pusako
Jelajah Nagari
Deklarasi
Green Map
BPPNKG
Peta tata ruang

   Galeri Foto
Bentang Alam
Kerajinan tangan
Kotogadang Tempo Dulu
Arsitektur
Mesjid Tapi paska gempa
Keadaan bangunan paska gempa
Pengungsi
Ngarai Sianok runtuah
Masjid Tapi tempo doeloe

   Statistik

   FAQ

   Buletin Nagari
Hutan Ulayat
Kawasan Pusaka
Bisnis dan Ekonomi
Seni dan Budaya
Agama
Event
Kaba Kampuang
Kaba Rantau
Tokoh

   Pesan Singkat
Nama*
Email
Pesan*
*harus diisi

   Statistik Web
  Visitors : 139856 visitors
  Hits : 26747 hits
  Month : 788 users
  Today : 33 users
  Online : 5 users

   Sindikasi Berita





 


   Chatting
Enter Chatroom
Nick Name:

   


DEK SUNGSANG BIN MANYAMPILANG
Selasa, 22 April 08 - oleh : Luthy

Ada gempa mahadahsyat di Aceh. Masjid utuh tapi banyak rumah yang runtuh.

Sedangkan kejadian gempa di Sumatera Barat, rumah utuh tapi masjid banyak yang rubuh.

Satu di antaranya, Masjid Tapi di Kotogadang.

MAKA bertanyalah orang kepada Engku Labai tentang makna musibah ini.

Sang Labai menjawab dengan pertanyaan pula: "Lai juo rumah Allah di kampuang angku tu?"

"Lai," jawab si penanya.

Labai kemudian bertanya lagi : "Yo bana lai?"

"Lai, Mak Labai. Musajik tu tonggak no ampek, gadang bana. Mimbar no model saisuak pulo..."

Mak Labai tercenung sejenak, lalu berkata:"Mantun ko, sanak. Nan ambo mukasuik

lai bapakai musajik tu sasuai jo ajaran nabi kito?"

"Tantu lai, angku Labai." "Tapi tampak diambo, tibo ukatu shalat kadang-kadang nan jadi makmum, labiah

banyak malahan tonggak musajik." Sebagai umat beragama kita tetap menaruh keyakinan runtuhnya Rumah Allah itu bukan lantaran amarah "Allah Maha Pengasih Mahapenyayang", tapi merupakan isyarat agar rumahNya itu sudah patut ditata-ulang.
Pertama, karena lokasinya persis di garis patahan gampo.

Kedua, jika kelak dibangun kembali bisa diisi dan difungsikan sesuai dengan ajaran Islam.

Masjid Tapi runtuh digoyang gempa tanggal 6 Maret 2007 jam 10:00. Anak nagari dari rantau berambauan pulang.

Sekitar pertengahan Maret 2007, ada seorang anak nagari yang menjanjikan dana tersedia, lalu minta supaya gambar rancangan masjid segera disiapkan.

Maka 1 April 2007 sah terbentuk Panitia Pembangunan Masjid Tapi dan Rehabilitasi Air Bersih (PPMTRIAB).

Agenda kerja panitia, antara lain menyelesaikan gambar rancangan. Lokasi harus bergeser 20 meter dari tempat semula,berarti lahan perlu diperluas. Panitia menghubungi pemilik tanah yang akan kena lokasi masjid baru.

Awalnya disebutkan gampang, bahkan dibilang tanah itu bakal diwakafkan. Namun ternyata bakatengkong alias ribet.

Sebab, rupanya panitia penghubung cuma sekadar kontak halohalo dan sms.

Tidak langsung ketemu muka dengan pemilik,komunikasi sempat menimbulkan salah paham.

Terutama soal luas tanah yang akan dipakai.Dalam rapat panitia disebutkan perlu 1.500 m2, tapi yang sampai ke telinga pemilik hanya 50 m2. Dan jumlah inilah yang kemudian dicantumkan sebagai wakaf oleh pemilik dalam surat pernyataan tertanggal 6 Juni 2007.
Sementara itu, gambar rancangan rampung medio April 2007, dan di-acc di Jakarta serta Kotogadang,akhir April 2007. Giliran lokasi diukur, hasilnya banyak nan manyampilang alias tak cocok dengan rencana.

Misalnya, semula Surau Baru Inyiak Janus disetujui pemilik untuk dibongkar, ternyata batal.

Tanah persawahan yang tadinya perlu 1.500 m2, jadinya 1.220 m2. Dan pemilik tanah bersedia mewakafkan 350 m2 saja, sedangkan sisanya harus dibayar panitia Rp 74 juta. Itu dilunasi November 2007.

Biaya total pembangunan masjid sekitar Rp 1,8 milyar. Dana dihimpun sejak pertengahan Maret 2007 sampai dengan Juni 2007 berjumlah Rp 450 juta, yang mengalir dari anak nagari,dan sampai dengan Januari 2008 terkumpul sekitar Rp 1 milyar.

Lalu terdengar cerita dari Pemerintah Daerah Sumatera Barat akan menyumbang Rp 300 juta.

Bak kato Nabi, serahkan suatu pekerjaan kepada ahlinya, maka Juni 2007 penanggung jawab teknis sudah menyelesaikan gambar rancangan secara rinci. Ongkos pembuatan gambar itu Rp 45 juta, terbilang murah menurut ukuran biro arsitek.
Tapi sampai kini panitia belum membayarnya, dan Biro Arsitek "Atelier 6" pun belum mendesakkan pembayaran. Satu dari copy gambar rancangan itu diminta oleh ketua panitia, dijojokan katanya ada yang akan menyandang dana penuh. Disebutkan seluruhnya Rp 2,5 milyar.

Untuk pelicin aliran dana itu, katanya lagi, perlu 10% dari jumlah tersebut.

Lalu Rp 250 juta disisihkan ke rekening lain panitia, November 2007. Berjalan sekian bulan,

ternyata sang penyandang dana tak kunjung mencogok. Gambar siap, lahan pun siap, sebagian dana tersedia,maka lapangan pun ditata. Sesuai gambar perlu dibikin turap selingkar lahan, dan harus ditimbun.

Nah, proses pelaksanaannya bakatengkang karena masuk "orang yang bukan ahlinya", dan mengabaikan samasekali "sang ahli". Gara-gara cara kerja sungsang ini terjadilah surat berbalas surat, sms berjawab sms.

Suasana kerja panitia pun menjadi tegang tak menentu. Walhasil, PPMTRIAB kemudian diambilalih Ninik Mamak Penghulu Nan 24, pada 5 Februari 2008.

Lalu pengurusnya direshuffle: ketua panitia dan sang ahli dikeluarkan, serta ditetapkan panitia tidak lagi diisi dengan personil yang berstatus pemangku adat.
Alam takambang jadikan guru, kata sebuah petuah terkenal di Minangkabau. Runtuhnya masjid dihoyak gempa di kampung, Subhanallah, sungguh tidak diharapkan berbuntut runtuhnya pula marwah intelektualitas urang Kotogadang yang tersohor.

Mudah-mudahan kejadian ini jangan sampai terdengar oleh jurucatat

Museum Rekor Indonesia (MURI) : ada panitia pembangunan masjid bubar sementara masjidnya belum jadi......

  kirim ke teman |   versi cetak


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Formulir Komentar | Aturan >>

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar

 
   
   Pencarian

cari di  
 

   Jajak Pendapat
Setujukah anda Kotogadang masuk wilayah Kota Bukittinggi?.

Setuju
Tidak Setuju


   Top Download
Peraturan Nagari No. 02 Tahun 2002 (1452)
Peraturan Nagari No. 04 Tahun 2002 (1450)
Peraturan Nagari No. 05 Tahun 2002 (1360)
Peraturan Nagari No. 03 Tahun 2002 (1201)
The History of Sumatra (891)
Laporan Bencana Gempa Bumi Kab. Agam (885)
Perda Prop. Sumatra Barat No. 09 Tahun 2000 (884)
Peraturan Menteri Agraria Nomor 5 Tahun 1999 (878)
Peraturan Pemerintah no. 84 tahun 1999 (735)

   Link Terbaru
Suaro Kotogadang
[Added: 30-Jun-2008]
Minangkabau.Info
[Added: 02-Mar-2008]
Cimbuak.net
[Added: 02-Mar-2008]
Melayu Online
[Added: 02-Mar-2008]
Pemerintah Kota Bukittinggi
[Added: 02-Mar-2008]
Situs Resmi HKI
[Added: 06-Feb-2008]
EraMuslim
[Added: 24-Mar-2007]
West Sumatra
[Added: 05-Sep-2006]
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
[Added: 22-Aug-2006]
Pemerintah Propinsi Sumbar
[Added: 05-Aug-2006]
Tampilkan situs Anda di sini.
» Tambah link baru
» Browse link

   Artikel Terakhir
Kotogadang Dukung Rang Sumbar Baralek Gadang
Instalasi Air Bersih Nagari Koto Gadang Diresmikan
Ngarai Sianok Akan Dilengkapi "SKY Line"
Transformasi Nilai-nilai Budaya Minangkabau
Karena Saya Indonesier
Pemkab Agam Dukung Gebyar Seabad HKN
DEK SUNGSANG BIN MANYAMPILANG

   Buku Baru!
Adat Istiadat Kotogadang
Edisi perdana Oktober 2005 Penyusun : Heratina Mahzar
Hubungi : Ibu Hera, tlp. +62 752 31044.

Pakaian Tradisional Kotogadang
Edisi perdana Oktober 2005
Penyusun : Sita Dewi Razni, Mity J. Juni, Rebecca Dahlan.Penerbit : Yayasan Kerajinan Amai Setia
Hubungi: Ibu Sita Razni Tlp. +62 811 144123

   Mailing List
Gabung di milis kotogadang
Powered by: asia.groups.yahoo.com

   Forum Diskusi

 

Powered by SeniRupa.Net. Kotogadang © 2006, Pemerintah Nagari Kotogadang bekerjasama dengan SeniRupa.Net