| |
Buletin Nagari |
Pesan Singkat |
Statistik Web |
Visitors : 826053 visitors
Hits : 121597 hits
Month : 571 users
Today : 36 users
Online : 4
users |
Sindikasi Berita |
Chatting |
|
|
 |
|
BANYAK BABUEK SAKETEK MANGICEK Sabtu, 21 Nopember 09 - oleh : admin
Memang indak gampang manjalankan apo nan alah direncanakan, atau nan alah diucapkan. Apolai untuk ukuran Nagari Kotogadang nan sagadang lapek tu.
Tidak semua bisa berjalan sesuai dengan keinginan, dan tidak semua bisa dilakukan dengan perintah dan instruksi secara militer ataupun birokrasi.
Bahkan tidak semua orang bisa memimpin Kotogadang dengan nyaman dan aman tanpa ada benturan dan hambatan, segala sesuatu pasti akan mendapat halangan dan berbagai pendapat beragam.
Dengan suku yang relatif sedikit dibanding Nagari lain, Cuma 4 (empat) suku. Kalau di Nagari lain bisa lebih banyak dan lebih beragam, Namun rencana apapun mungkin tidak akan mendapat hambatan sebesar di Kotogadang.
Namun hal tersebut bukan tidak bisa dijalani dengan baik, semua tergantung NIAT yang ditanam dalam hati dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Untuk menilai sesuatu di Kotogadang paling hebat dan paling kritis. Bagi yang melaksanakan jangan dijadikan itu masalah yang bisa merusak konsentrasi, jadikanlah itu motivasi agar bisa lebih baik dan berhasil. Tidak ada masalah yang tidak akan ada jalan keluarnya.
Seperti ucapan Engku Emil Salim ketika berada di Nagari kecil itu untuk ikut melaksanakan alek batagak Penghulu di pihak isteri beliau.
‘’ Mengurus Negara yang sedemikian besarnya saya bisa, tapi untuk mengurus kampung kecil ini Pusing… Pusing.”
Namun semua rencana tadi bisa berjalan dengan baik, bahkan mungkin setiap pelaksana yang terlibat mau memakaikan caro banagari yang benar. Walau masih ada kata-kata sumbang disana sini. Akan tetapi sebagai sipangka semua merasa puas dan bisa tersenyum setelah acara selesai.
Jadi Sebenarnya semua hal itu tidak serumit atau sepusing yang disampaikan kalaulah bapakaikan kato-kato yang alah ditulis Engku Ikhdan Nizar, ‘Raso dibaok naiak, Pareso dibaok turun”.
Suatu kata-kata yang sangat dalam artinya.
Namun bagaimana kata-kata itu bisa dipahami dan bisa dilaksanakan dalam kehidupan banagari di Kotogadang kalau pelaksananya tersebut tidak pernah mau tau dan tidak mengerti sama sekali makna yang terkandung didalam nya.
Bahkan pernah saya mendengar cerita ada anak nagari yang mempertanyakan keberadaan seorang Ninik Mamak dalam rapek tentang Nagari, bahkan sampai MENGGEBRAK MEJA SEGALA .
Kok yang seperti itu baru patuik dijatuahkan hukuman adat sesuai yang berlaku di Nagari Kotogadang.
Dimana raso jo pareso tu tagak nyo ? bagi orang-orang yang tidak punya raso tadi disitulah perlunyo aturan tadi. Kalau indak akan” bakalalaran” sajo jadinyo.
Jadi memang perlu sekali ditulis semua tentang bagaimana “HIDUP BANAGARI”di Kotogadang agar bisa menjadi pedoman dalam melaksanakan segala sesuatunya bagi yang tidak tau dan yang setengah tau serta yang tidak mau tau tadi.agar kejadian-kejadian yang tidak perlu tadi tidak terjadi lagi.
Mungkin memang ada yang muda-muda sekarang sudah sangat jauh sekali dari Norma-norma ke Kotogadangan tadi. Kacak langan lah bak langan, kacak batih lah babatih.
Kok nan tuo indak diharagoi ketuaannyo lai, mungkin dek karano alah maraso kayo dan lebih mapan jadi sombong tibo.
Mudah-mudahan fungsi mamak di suatu kaum bisa dimaksimalkan agar hal ini bisa di kendalikan, tugas seorang mamaklah manunjuak ajari kamanakan walau sakayo apopun kamanakan tadi.
Kembali Teringat aku akan kata-kata Engku Daufril Bahir St.Saripado ketika kami pengurus Yayasan Kotogadang selesai dalam pertemuan dengan Dt.Tumanggung dan Dt.Rangkayo Basa di Padang beberapa bulan yang lewat,” Kok sepertinya tidak seperti yang selalu dibicarakan di Jakarta tentang kedua Ninik Mamak itu ya...Hasil pembicaraan tadi oke-oke banget dan jauh dari yang dibayangkan sebelumnya”.
Mungkin pelaksana acara dan orang yang merencanakannya waktu itu sudah memakai aturan banagari tadi dan tidak lepas dari raso jo pareso tadi yang selalu dipakai untuk bisanya pembicaraan tersebut berjalan dengan baik.
Inilah yang perlu diciptakan dan perlu di lakukan disetiap kegiatan dalam pelaksanaan kerja tentang Kotogadang jan bajalan surang dengan keangkuhan dan kekayaan baik intelektualnya maupun dalam harta..
Di kotogadang banyak urang nan kayo dan di Kotogadang gudangnyo urang pintar. Alun awak kayo nyo lah kayo dulu, alun awak pandai dan pintar di kampuang tu lah baribu urang bapalaik. Baik Ir, Dr, Prof, DR, hampir di setiap bidang ilmu. Itu sudah ada sebelum angok awak ditampuah hiduang dan mangeak ka bumi ko. Jadi jan heran kalau ado yang maajan-ajan tuah akan tamakan dek kato-kato nyo surang.
Yang pasti dalam melaksanakan karajo tadi kurangi mangicek, karano banyak mangicek banyak salah. Yang sudah pasti akan menghambat karajo tersebut..
Apolai alun bara karajo dipabuek alah basorak-sorai kalau diri alah babuek dan alah manyumbang untuak kampuang, mako.. jan kan puji nan dapek tapi akan tibolah cimeeh jo cemooh di badan diri.
Itulah Kotogadang bung
Sarok Tapi
kirim ke teman | versi cetak Tidak ada komentar tentang artikel ini.
Formulir Komentar | Aturan >>
|
|
 |
|
Pencarian |
Jajak Pendapat |
Top Download |
Link Terbaru | Tampilkan situs Anda di sini.
» Tambah link baru
» Browse link
Artikel Terakhir |
Buku Baru! |
Adat Istiadat Kotogadang

Edisi perdana Oktober 2005
Penyusun : Heratina Mahzar
Hubungi : Ibu Hera, tlp. +62 752 31044.
Pakaian Tradisional Kotogadang
Edisi perdana Oktober 2005
Penyusun : Sita Dewi Razni, Mity J. Juni, Rebecca Dahlan.Penerbit : Yayasan Kerajinan Amai Setia
Hubungi: Ibu Sita Razni Tlp. +62 811 144123 |
Mailing List |
Forum Diskusi |
|
|