| |
Buletin Nagari |
Pesan Singkat |
Statistik Web |
Visitors : 826080 visitors
Hits : 121703 hits
Month : 577 users
Today : 39 users
Online : 3
users |
Sindikasi Berita |
Chatting |
|
|
 |
|
TRADISI IDULFITRI DI KOTO GADANG ALAH PUNAH Jumat, 15 Mei 09 - oleh : admin
Pulang disaat hari Raya Idul Fitri masih merupakan hal yang sangat diinginkan dan di dambakan bahkan di idam-idamkan oleh anak Nagari Kotogadang yang berada di rantau. Bagi mereka YANG PERNAH MERASAKAN HIDUP DAN TUMBUH di Nagari Kotogadang ini akan merupakan kenangan yang sangat indah, bagaimana dulu mereka bisa tumbuh dan bergembira bersama disaat hari yang suci itu datang. Bagaimana orang-orang yang punya kepentingan dan mengemban AMANAH di Nagari kecil itu berusaha menciptakan suasana yang semarak dan indah bagi anak kemenakan mereka khusus nya dan anak nagari pada umumnya.
Bagaimana seluruh perangkat Nagari berusaha berbuat hal-hal yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Bahkan warisan nenek moyang tersebut sampai saat ini masih ada CERITANYA.
Mulai dari Batarewai, acara Pencak silat dan Randai serta hiburan-hiburan lainnya yang bisa menjadi Anak Nagari yang di kampung maupun yang sengaja pulang dari rantau bisa merasakan dengan berkumpul di Tapi sambil menonton dan bersilaturahmi satu sama lainnya. Alangkah indah dan sangat berkesan sekali kenangan tersebut.
Namun itu hanya tinggal CERITA LAMA, sewaktu memasuki kampung yang penuh menyimpan kenangan itu pada 2 (dua) syawal atau tepatnya lebaran ke dua… Alangkah tersentak nya dan terguncangnya perasaanku.
Tidak ada hiasan pucuak anau di gerbang nagari ataupun di pintu mau naik Balai Adat itu lagi , tidak ada gaba-gaba yang nampak di pasang dipinggir jalan ataupun di tangah tapi di dekat balai adat tanda anak Nagari tengah bersyukur dan bersuka cita. Tidak ada tanda-tanda kalau hari ini orang di Kotogadang tengah ber Idul fitri.
Kecuali yang terlihat bendera Partai beberapa buah dan warna cat Tapi yang sudah berganti menjadi kuning.
Dari pagi itu memasuki kampung terasa makin menjadi keanehan yang merasuki diri menerima kenyataan ini, untuk bisa mendapat informasi yang lebih pasti dan jelas maka dihubungilah St.Mancayo yang sudah lebih dulu berada di Kotogadang. Jawaban beliaupun menambah rusuah hati.
Setelah bersilaturahmi sesaat dan kami dari Padang langsung meminta untuk bertemu dengan BAMUS (Badan Musyawarah) NAGARI KOTOGADANG.
Walau rencana pertemuan itu sudah disusun jauh-jauh hari sebelum lebaran, ternyata kami dari pengurus PKS (Persatuan Kotogadang Saiyo) PADANG diterima oleh 3 (tiga) orang dari BAMUS antara lain : Bpk.Bahril Ilmi (Wakil Ketua BAMUS), Bpk.Yusbar (Sekreretaris BAMUS) serta seorang anggota BAMUS dari Sutejo.
Pertemuan yang digagas ini dan diharapkan bisa mendatangkan hasil positif secara langsung saat itupun tidak mendapatkan hasil apa-apa.
Sedih sekali menerima kenyataan ini, lembaga yang menjadi tumpuan terakhir bagi Anak Nagari inipun sudah lumpuh. Sangat disayangkan berita yang kami dapatkan. Kalau selama ini belum ada satupun masyarakat Kotogadang membuat pengaduan ke BAMUS, sementara kejadian di Kotogadang udah banyak dan terlihat langsung oleh mata.
Timbul pertanyaan BODOH ....Rapat yang terdengar selalu dilakukan dengan Walinagari selama ini membicarakan apa saja ? kalau Cuma rencana dan cerita saja yang dicatat di Buku Notulen dan disimpan dalam lemari, itu hanya menghabiskan waktu dan energi saja.
Menyikapi dan menanggapi masalah yang dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat disaat Idul fitri berlangsung saat ini pun BAMUS tidak bisa memberikan keputusan dan kepastian bersikap.
Akhir dari Rapat Dengar pendapat yang kami lakukan, hanya tercatat dalam buku Notulen yang dijanjikan nantinya akan dibicarakan dengan Walinagari nantinya.
Diujung rapat para Anggota Bamus lainnya berdatangan, seperti Wakil dari Bundo Kanduang, Tuangku Manghudum Dari Gantiang dan satu lagi wakil dari Sutejo.
Selesai Rapat dengan Bamus, malam nya kembali terjadi pertemuan dengan parewa-parewa yang katanya dulu pernah tidur, begadang dan punya TAPI.
Pembicaraan mangkin hangat disaat St.Mancayo menelp Walinagari untuk mintak bertemu di Tapi. Para pemuda yang duduk berkelompok-kelompok disudut TAPI tadi mulai menyatu. Bahkan suasana terasa sangat dingin ketika Walinagari dan ketua Pemuda serta pengurus PPKG mulai saling keluarkan pendapat dan uneg-uneg.
Garah kudo kalua, hati buliah paneh tapi kapalo tetap harus dingin ..Akhir pembicaraan... disepakati untuk membuat TAPI semarak kembali dan setuju untuk mengadakan GOTONG ROYONG besok pagi.
Seluruh marawa akan dipasang dan pucuak anau untuk gerbang akan dibuat serta 4 (empat) buah Batang Pinang akan diadakan untuk penutupan Hari Raya dihari minggunya .Tepat jam 00 tengah malam kami bubar untuk pulang kerumah masing-masing, sudah terasa embun mulai menempel dimuka dan tangan, namun dingin nya tidak terasa karena ada kehangatan di dada menerima hasil pertemua ini.
Ternyata yang cinta kampung ini masih ada dan masih berani berbicara dan langsung berbuat, terbukti dengan Gotong Royong dipagi harinya dihadiri langsung oleh para pemuda dan terlihat juga para punggawa-punggawa Tapi yang dulu pernah aktif di zaman nya bahkan Inyiak Rusdi (adik Bong ALM) ikut ambil bagian.
Semua membaur dan menyatu dan bekerja dengan penuh semangat dan NIAT yang tulus tanpa pamrih. Berharap apa yang diperbuat hari ini bisa membuat anak-anak dan para perantau yang membawa pulang kaluarganya bisa merasakan kegembiraan ber Idul fitri dikampung seperti yang pernah KAMI ALAMI DAN KAMI RASAKAN WAKTU KECIL DULU.
Terbersit suatu rasa dalam hati, Ternyata beginilah Dulu para pendahulu kami berbuat untuk Anak dan Nagari ini, Sementara kami menyia-nyiakan nya. Betapa malunya kami yang memegang AMANAH untuk Nagari Kotogadang ini sementara tidak ada berbuat apa-apa untuk generasi sekarang.
Maafkan lah kami Tuhan .... yang tidak bisa menciptakan KENANGAN yang indah bagi anak-anak dan Nagari Kotogadang seindah seperti yang pernah Kami alami dulu dimasa kami Kecil dikampung tercinta ini.
Khusus Bagi yang memegang AMANAH terhadap Nagari Kotogadang
Kok lai bapadi maampolah, kok lai ba HATI Marasolah
Ttd, Sarok Tapi
kirim ke teman | versi cetak Ada 7 komentar tentang artikel ini :
arti punco Jumat, 05 Juni 09 - oleh : sumando | | Kamus bahasa minangkabau tahun 1935 diusahan oleh m.thaib.st pamuntjak terbitan balai pustaka halaman 188 arti punco adalah ujungkayu yang dimasukan besi bundar,kedua anjing dengan warna putih diujung ekornya.Silahkan koreksi. |
Tanggung jawab basamo Jumat, 05 Juni 09 - oleh : RG.st.sinaro | | kato bajawek gayuang basambuik. menanggapi pintak rang Mudiak, semua karajo dan kegiatan di 1 syawal dst nyo tadi merupakan tanggung jawab kito basamo. tolonglah baco tulisan ambo tentang AMANAH. disitu akan nampak seluruhnyo. ndak mungkin orang-orang yang manarimo amanah di kampuang tidak tau,kini yang jadi masalah mau atau tidak mereka menjalankan AMANAH yang mereka terima? tapi sudahlah mari samo-samo kito nan memang namuah bakarajo untuak kampuang tu tagak kamuko untuak menjalankan rencana tu nanti. Ambo pribadi salut dengan kebersamaan abang-abang ambo dan generasi ambo yang dengan bangga dulu untuak melaksanakan Tradisi tadi. apo masih ado pemuda Kotogadang yang peduli? buktikan dengan perbuatan bukan dengan perkataan. Saya tunggu kehadiran rang mudiak dalam menyambut lebaran depan. |
tolong Jumat, 05 Juni 09 - oleh : rang mudiak | | tolong tolong yo lah di bang alan untuk ma arahkan nyo supayo tradisi nan taralah tu bisa dilaksanakan baliak bulih nak tahulo nan mudo mudo kini tentang tradisi di satu syawal tu di koto gadang, klu kini tahu nyo nampak di ambo cuma berorgen sajo, klu lebaran tahun kapatang diambo sangait taraso baa dingin nyo suasana pas satu syawal tu. |
arti PUNCO Sabtu, 30 Mei 09 - oleh : rimbo balai gdg | | punco.. ikua nyo bakaluak, dipaburuan bakaja lai tapi masuak ka bangkai indak. bahkan acok babaliak plg dalam kajaran.satangah jalan liau lah babelok arah. kok tibo diurang nan saromanko yang babahayo, dalam parang acok dihukum tembak. karano pengecut dan sering berkhianat. kalau maotai urang dan manilai nyo nomor satu. tapi karajo nyo ndak pernah salasai bahkan acok tabangkalai. start nyo bisa tapi masuak finis ndak pernah. itu namonyo PUNCO |
Kepedihan Mendalam Rabu, 27 Mei 09 - oleh : Carano | Sungguh sedih hati membaca tulisan ini.. Hampir menitik air mata ini..
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Tidak terbayang lagi, apabila nanti orang yg tua-tua telah pergi mendahului kita, lalu tinggallah anak cucu kita, apa yg akan terjadi? Apakah kotogadang hanya tinggal nama? Jangan sampai...
Mari kita bersama-sama berbuat, jgn hanya komentar... |
Pasti berubah Senin, 25 Mei 09 - oleh : Punco | Yang pasti adalah perubahan.Suka atau tidak suka kondisi KG pasti berubah. Sebagai orang Minang kita harus menerima perubahan.Sekali aia gadang tapian barubah.Mandi ditapian lama adalah mimpi. Mobilitas penduduk,sarana komukasi,era informasi membuat KG cepat berubah.
Soal BAMUS yang tak ada prestasinya suatu hal yang mengejutkan. Heran juga orang sekaliber Nusirwan Acang, Rudy felial tidak berbuat apa apa untuk KG. Kalau untuk anggota lainnya bisa dimaklumi. |
ikut prihatin Kamis, 21 Mei 09 - oleh : rang rantau | | ambo sbg anak koto gadang ikuit marasokan mulai ilangnyo tradisi barayo dikampuang. dulu ambo juga ikuit manari dipentas. malam takbiran tu babuko basamo di tapi. paginyo ikuit di balai manyiapkan kue jo minum utk urang batarewei. kini ndak ado lai do yg sarupo itu ...panutuit rayo manjek batang pinang bakumpua awak sambia basilaturahmi. kama painyo urang2 yg peduli ... mudah2an msh ado yg peduli jo kemewahan rayo dikampuang tu .. |
Formulir Komentar | Aturan >>
|
|
 |
|
Pencarian |
Jajak Pendapat |
Top Download |
Link Terbaru | Tampilkan situs Anda di sini.
» Tambah link baru
» Browse link
Artikel Terakhir |
Buku Baru! |
Adat Istiadat Kotogadang

Edisi perdana Oktober 2005
Penyusun : Heratina Mahzar
Hubungi : Ibu Hera, tlp. +62 752 31044.
Pakaian Tradisional Kotogadang
Edisi perdana Oktober 2005
Penyusun : Sita Dewi Razni, Mity J. Juni, Rebecca Dahlan.Penerbit : Yayasan Kerajinan Amai Setia
Hubungi: Ibu Sita Razni Tlp. +62 811 144123 |
Mailing List |
Forum Diskusi |
|
|