| |
Buletin Nagari |
Pesan Singkat |
Statistik Web |
Visitors : 826080 visitors
Hits : 121674 hits
Month : 577 users
Today : 39 users
Online : 4
users |
Sindikasi Berita |
Chatting |
|
|
 |
|
Kotogadang Kota Pendidikan : Mungkinkah ? Senin, 12 Januari 09 - oleh : Epy Buchari
Saya bukan orang Kotogadang ; kampung saya terletak sekitar 10 km dari Kotogadang ke arah Maninjau.
Walau demikian saya cukup mengenal Kotogadang dan orang-orang yang berasal dari sana. Ada yang famili saya sendiri, kawan dari masa lalu, kawan masa pendidikan, rekan sekerja, dan kenalan. Selain itu sayapun sering liwat atau mampir di Kotogadangnya sendiri. Malahan penggiat pembangunan Kotogadang sangat saya kenal : Ir. Rudy Ferial, yang dulunya mengenalkan website ini kepada saya.
Jadi sanak, dalam menulis artikel ini anggaplah saya urang awak Kotogadang juo.
Menyangkut Minangkabau secara menyeluruh ataupun Kotogadang secara khusus, yang menjadi pemikiran saya adalah tidak adanya "benang merah" yang menghubungkan kejayaan masa lalu dengan masa sekarang untuk banyak hal.
Kalau benang merah saja tidak ada bagaimana pula akan mengharapkan adanya kemajuan yang bertolak dari warisan lama yang kita banggakan. Yang disebut "kemajuan" itu kalau kata ajaran Islam itu khan seyogianya "hari ini harus lebih baik dari hari kemarin". Kalau tidak kita terkategorikan merugi.
Salah satu icon ranah Minang untuk kemajuan di bidang pendidikan umpamanya adalah keberadaan Kotogadang di garda depan orang terdidik sejak masa kolonial Belanda.
Saya ingat pada tahun 1966 saya bersama almarhum ayah untuk pertama kali singgah ke Kotogadang mencari teman saya Ir. Darul Zahri Yazir.Memasuki Kotogadang ayah saya mengatakan bahwa kalau berpapasan dengan orang tua di Kotogadang, sebagian besar dari mereka adalah orang bertitel. Mula-mula saya fikir ayah saya agak berlebihan. Ternyata benar saja, orang tua pertama yang berpapasan adalah Dr. Syaaf, ayahnya OB Syaaf, yang termasuk orang dikenal di zaman itu.
Salah seorang kawan saya berdiskusi dulu membahas berbagai topik adalah alm. Ir. Anas Abdul Majid.
Beberapa bulan yang lalu saya masih singgah ke Kotogadang.
Negeri ini tampak tidak berubah sama sekali. Sawah-sawah luas tampak dibajak dengan traktor tangan; tapi saya mendapat penjelasan bahwa kebanyakan yang mengerjakan sawah itu adalah warga non Kotogadang. Rumah-rumah bagus tampak sebagian kosong. Kalaupun ada yang menunggui, menurut informasi sebagian itu orang upahan (dibayar untuk menunggui rumah bagus).
Hal inilah yang membuat saya berpikir di muka "Amai Setia" kenapa orang Kotogadang tidak memanfaatkan saja sebagian kampungnya yang cantik dan bersejarah ini menjadi sesuatu yang merupakan benang merah yang menghubungkannya dengan masa lalu yang gemilang di bidang pendidikan itu. Dengan adanya sesuatu ini, Kotogadang bukan saja menjadi icon pendidikan zaman dulu saja tapi kalau bisa juga icon masa kini dan masa mendatang.
"Sesuatu" itu menurut impian saya adalah menjadikan Kotogadang menjadi sebuah kota pendidikan di Sumatera Barat. Semua syarat yang diperlukan rasanya tersedia di sini.
Para pakar berbagai bidang keilmuan yang sudah dalam masa pensiun, lokasi yang nyaman, dan sikap mental orang Kotogadang yang saya kenal : tidak "macam-macam" (berarti hanya satu macam), lurus, jujur, loyal, dan disiplin.
Tentunya ada penghambat dan kesenjangan di sana sini untuk merealisir mimpi ini. Tapi dengan "network" yang dimiliki warga ini, rasanya tidak ada yang mustahil.
Ayo kawan-kawan Kotogadang, bagaimana kalau kita kembangkan gagasan ini ?
Kita jadikan bidang Pendidikan sebagai salah satu andalan Sumbar selain Pariwisata. Untuk ini kita jadikan Kotogadang sebagai ujung tombaknya.
Para sanak Kotogadang, mohon maaf kalau saya seperti lancang. Tidak ada maksud negatif di sini.
Tertitip salam hangat untuk Ir. Rudy Ferial dan Ir. Janeidi Juni, dan urang sumando Ir. Hediyanto.
Wassalam,
Epy Buchari
http://kadaikopi.carpediem123.com
[email protected] kirim ke teman | versi cetak Ada 4 komentar tentang artikel ini :
Bersatulah, kita pasti bisa Sabtu, 26 Desember 09 - oleh : Joel Oesman | | Membaca tulisan engku Epy, saya merasakan sebagai satu tamparan bagi kami yg punya ide yang sama dengan engku tapi tidak pernah bisa merealisasikannya. Saya sangat setuju kalau kita menjadikan KG sebagai ujung tombak untuk membangun kota pendidikan di Sumatra Barat. Sekalian maninjau sebagai resort parawisatanya.Kami di KG sudah penuh denga wacana untuk memaintain benang merah seperti yang engku sebutkan. Tapi wacana tinggal wacana, karena tidak ada yang punya dedikasi untuk merealisasikan wacana itu. Kalau yang mudo lah sibuak jo mancari pitih, sedangkan yang tuo2 labiah mamiliah bamain jo cucu2. Mudah2 engku Epy melihat satu cara untuk mempersatukan kita dalam bertindak untuk menjadikan KG dan Maninjau sebagaisister village Kota Pendidikan dan Kota Pariwisata. Saya masih ingat pameo zaman dahulu, "ooo uni masih lamak ndak gulai itik jo gulai rinuak dan bada kariang. Wassalam. |
setuju sekali Minggu, 19 April 09 - oleh : Ardi M Almatsir | | saya sangat setuju dengan usul yg positif seperti ini, barangkali sekarang saat yg tepat untuk mewujudkan ide ini, setelah KG menjadi pusat acara Rang Minang Baralek Gadang, KG rasanya telah menjadi "milik" bersama urang Minang. |
Terima kasih. Sabtu, 18 April 09 - oleh : Yusri sikumbang | Kpd Yth Bapak/kakanda Epy Buchari;
Saya adalah anak nagari Koto gadang yg masih berusia muda,membaca isi artikel bapak saya sangat berterima kasih dengan keprihatinan bapak kepada kampung kami.saya berharap ide/pendapat bapak itu di terima oleh anak nagari Koto gadang yg lain nya agar bisa di teruskan utk ke arah yg bapak sarankan tersebut.sekali lagi terima kasih dan tetap lah memberikan yg terbaik bagi Koto Gadang.Wassalam |
tarimo kasih Sabtu, 07 Maret 09 - oleh : rafl | terimakasi buat angku epy telah mengisi artikel di web koto gadang ini.
|
Formulir Komentar | Aturan >>
|
|
 |
|
Pencarian |
Jajak Pendapat |
Top Download |
Link Terbaru | Tampilkan situs Anda di sini.
» Tambah link baru
» Browse link
Artikel Terakhir |
Buku Baru! |
Adat Istiadat Kotogadang

Edisi perdana Oktober 2005
Penyusun : Heratina Mahzar
Hubungi : Ibu Hera, tlp. +62 752 31044.
Pakaian Tradisional Kotogadang
Edisi perdana Oktober 2005
Penyusun : Sita Dewi Razni, Mity J. Juni, Rebecca Dahlan.Penerbit : Yayasan Kerajinan Amai Setia
Hubungi: Ibu Sita Razni Tlp. +62 811 144123 |
Mailing List |
Forum Diskusi |
|
|