| barando | tentang kotogadang | buku tamu | kirim artikel | download | webmail | contact | controlpanel |
 
   Barando
Tentang Kotogadang
Letak Geografis
Demografi
Foto Udara

   Interaktif
Download
Rubrik
About Us
Web Links

   Pemerintahan Nagari
Bamus Nagari
Wali Nagari
MAMAS
MUNA
LPMN
Peraturan Nagari

   Organisasi Kemasyarakatan
Yayasan Kotogadang
Yayasan Amai Setia
PKK
IIKG
PPKG
PKS (Padang)
Mudo Sakato
Kantikandano
Aua Malambai

   Ninik Mamak Penghulu Nan XXIV
Suku Guci/Piliang
Suku Koto
Suku Caniago
Suku Sikumbang

   Nagari Pusako
Konsep Nagari Pusako
Jelajah Nagari
Deklarasi
Green Map
BPPNKG
Peta tata ruang

   Galeri Foto
Bentang Alam
Kerajinan tangan
Kotogadang Tempo Dulu
Arsitektur
Mesjid Tapi paska gempa
Keadaan bangunan paska gempa
Pengungsi
Ngarai Sianok runtuah
Masjid Tapi tempo doeloe

   Statistik

   FAQ

   Buletin Nagari
Hutan Ulayat
Kawasan Pusaka
Bisnis dan Ekonomi
Seni dan Budaya
Agama
Event
Kaba Kampuang
Kaba Rantau
Tokoh

   Pesan Singkat
Nama*
Email
Pesan*
*harus diisi

   Statistik Web
  Visitors : 750847 visitors
  Hits : 50696 hits
  Month : 711 users
  Today : 40 users
  Online : 6 users

   Sindikasi Berita





 


   Chatting
Enter Chatroom
Nick Name:

   


Karena Saya Indonesier
Minggu, 29 Juni 08 - oleh : admin

Kelah Sang Demang Jahja Datoek Kajo

Judul:KELAH SANG DEMANG JAHJA DATOEK KAJO
PIDATO OTOKRITIK DI VOLKSRAAD 1927-1939

Penulis: Azizah Etek, Mursyid A. M., Arfan B. R.

Penerbit: LkiS, Yogyakarta

Cetakan: 1, Mei, 2008

Tebal: xvi + 512 hal

Kita mulai perbincangan ini dengan sebuah kisah. Juni 1927. Didepan sidang Volksraad, Hadji Agus Salim berpidato dengan lantang. Pemimpin sidang, Vorzitter, memperingatkannya agar berbahasa Belanda. Namun Agus Salim mengelak sembari berargumen bahwa sekalipun ia mahir bahasa Belanda peraturan Dewan menjamin haknya untuk bicara dalam bahasa Indonesia. Majelis pun terdiam.

Baru beberapa jenak Agus Salim menyebut sebuah istilah yang tak mungkin dihindarinya: ekonomi. Mendadak Bergmeyer menyela sambil mengolok-olok. "Apa kata ekonomi dalam bahasa melayu?" Tanpa pikir panjang, Agus Salim sontak membalas,"Coba, Tuan sebutkan apa kata ekonomi itu dalam bahasa Belanda, nanti saya sebutkan Indonesianya!"Bergmeyer tertohok keras. Ia baru tersadar bahasa Belanda tak punya padanan kata dengan istilah dari Yunani itu (Rahzen: 2007).

Potongan kisah dalam sejarah Volksraad itu menunjukan bahwa selain sebagai perantara wicara, bahasa adalah juga soal martabat, harga diri, cara berpikir, dan kebanggaan terhadap tanah air. Terlebih di muka persidangan Volksraad, bahasa menjadi persoalan yang amat sensitif. Saat itu, bahasa Indonesia masih sulit diterima sebagai bahasa resmi, sekalipun sejak 1918 Sri Ratu memperbolehkan penggunaannya dengan catatan bahasa Belanda tetap diutamakan.

Sebagai bangsa, kita berutang budi pada tokoh-tokoh Volksraad yang berupaya "merumahkan" bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan formal pemerintahan. Bersama Agus Salim, Jahja Datoek Kajo secara efektif dan konsisten memelopori penggunaan bahasa Indonesia sebagai alat kritik dan perlawanan di parlemen. Nama Jahja memang jarang disebut dalam kurikulum pelajaran sejarah di negeri ini. Kata Buya Syafi'i Maarif, pernik-pernik kecil dalam sejarah kita sebagai bangsa kerap dilupakan. Seolah-olah hal itu tidaklah penting dibicarakan dan diingat, meski sesungguhnya gerak pikir dan kesadaran kita dalam berbangsa sering ditentukan peristiwa-peristiwa kecil yang terlewatkan.

Jahja Datoek Kajo lahir di tanah Minang, Koto Gadang, pada 1 September 1874. Masa kecilnya dihabiskan di banyak tempat, berpindah-pindah merantau bersama mamaknya. Selesai membantu mamaknya yang menjadi kepala gudang kopi di Baso, Jahja magang di kantor Residen Padang Barat. Inilah momentum pertama pergesekannya dengan birokrasi kolonial. Mula-mula, sebab dianggap "berkondite" baik, kariernya terus menanjak. Dari sekadar juri tulis (1892), melompat menjadi Tuanku Laras IV Koto (1895) dengan gelar Datoek Kajo. Pada 1913, ia ditugaskan merangkap jabatan sebagai Kepala Laras Banuhampu. Selanjutnya ia sempat menjabat sebagai Demang di Bukittinggi (1914-1915), Payakumbuh (1915-1919), dan Padang Panjang (1919-1928).

Titik kisar perlawanan Jahja terhadap kolonial terbaca ketika pada tahun 1915 Asisten Residen James memberinya rapor merah. Sebagai demang, Jahja dinilai kelewat lunak memerintah, tidak suka menghukum orang, slordig dalam surat-surat berharga, dan jalan-jalan di distriknya tak sebagus distrik lain. Di Koto Gadang, Jahja melambari kepemimpinannya dengan kearifan lokal yang banyak tertuang dalam pepatah-petitih Minangkabau. Khazanah Minangkabau ini pula yang kelak menghantarkannya menuju kesadaran berbahasa Indonesia.

Jahja akhirnya "dibuang" oleh pemerintah ke Volksraad untuk periode 1927-1931. Meskipun posisi itu adalah jabatan ambtenar tertinggi untuk ukuran Minangkabau, pemerintah setempat lebih merasa aman jika Jahja dijauhkan dari tanah kelahirannya. Perseteruan terbukanya dengan Residen Whitlau beberapa waktu sebelumnya menimbulkan kekhawatiran akan munculnya konflik-konflik baru antara pemerintah dan masyarakat.

Menjadi anggota Volksraad berarti kemewahan menikmati fasilitas. Jahja memang mendapat itu semua, namun hati nuraninya tak bisa dibohongi. Jahja juga harus berhadapan dengan tradisi Volksraad lebih tampil sebagai penasihat pemerintah ketimbang penyalur aspirasi rakyat.

Bagi Jahja, seburuk apapun, keberadaan Volksraad menerbitkan harapan baru. Ia percaya bahwa Volksraad berada pada posisi yang tepat namun digunakan dengan cara dan tujuan yang keliru. Wajar jika ia menyesalkan penolakan Dr. Soetomo dan H.O.S Tjokroaminoto untuk diangkat menjadi anggota Volksraad bersamaan dengan dirinya. Kedua tokoh itu melihat ada ketidakberesan dalam konsep "mayoritas bumiputera" (Inlandsche Meederheid) yang hendak diterapkan pemerintah Belanda dalam keanggotaan Volksraad.

Rumah Bahasa di Parlemen

Sejak Tirti Adhi Soerjo dengan Medan Priaji-nya (1908) merumahkan bahasa Indonesia, pengandaian tentang nasion menjadi dimungkinkan (Rahzen:2007). Rumah itulah yang kemudian dihuni banyak orang dari masa ke masa. Jahja Datoek Kajo tentu saja satu dari sekian banyak penghuni yang merawat baik-baik "rumah" itu.

Dalam hal berbahasa,Jahja dan Agus Salim memang segendang-sepenabuhan. Bedanya, jika Agus Salim cenderung blak-blakan, Jahja menempuh cara "menyerang" sambil "membelakangi". Otokritik sang demang dibalut dengan daya retorika yang lugas, sopan, dan terarah. Pada persidangan Juli 1938, misalnya, Jahja mengakui Belanda masih menuntun Indonesia menuju kemajuan. Namun, antara yang memerintah dan diperintah tidak ada kesepahaman bahasa dan perasaan. "Saya ulangkan lagi, Tuan Vorizitter! Di Indonesia ini baik ambtenar, baik partikelir, belum 99.99 persen mengerti dan kenal bahasa Indonesia, sebaliknya bumiputra boleh jadi 0.001 persen yang mengerti bahasa Belanda."

Jahja berhasil membuktikan vitalitas bahasa Indonesia. Ia tak pernah disanggah seperti halnya Agus Salim. Koran-koran pribumi menyebutnya "Si Jago Berbahasa Indonesia di Volksraad". Julukan yang tak berlebihan karena di kemudian hari rintisannya itu memberi pengaruh besar pada Fraksi Nasional yang digawangi Soeroso, Thamrin, Iskandar Dinata, Abdoel Rasjid, Soangkoepon, dan Wirjopranoto. Fraksi ini konsisten mengangkat dan mengembangkan bahasa Indonesia di parlemen dan kancah politik.

Jahja sering mengungkap keburukan perilaku pejabat Belanda. Ia melihat bahwa alam keselarasan yang tadinya diterangi elok kato dengan mufakat, buruk kato di luar mufakat tak lagi diindahkan. Masyarakat tak punya saluran berpendapat, tak punya kesempatan bersuara. Dalam situasi seperti ini, bagi Jahja, bahasa Indonesia bisa menjadi titik temu untuk mengatasi problem pemerintah dengan rakyatnya. Komunikasi yang baik mendorong permufakatan yang baik pula. Dan mufakat, kerja sama (samenwerken) yang adil bisa diselenggarakan.

Nah, lagi-lagi kita nampaknya perlu mengaca pada masa lalu, pada Jahja, si demang, si djago, yang telah wafat 66 tahun lampau itu. Ada baiknya kita simak kutipan pidato bernada testimoni berikut:

"...Saya lebih suka didalam bahasa Indonesia, karena saya sendiri seorang Indonesier. Tuan tentu memaklumi bahwa sekalian bangsa dalam dunia ini lebih suka berbahasa dalam bahasanya sendiri. Sebabnya perasaan indonesier tinggal di orang Indonesier, perasaan Belanda di Belanda."

Ah, bukankah kita kini kian merasa malu untuk mengucap,"karena saya Indonesier..."

Ahmad Musthofa Haroen, Pustakawan Cabeyan Scriptorium

Sumber" Koran Tempo/Ruang Baca/ Edisi 51/ Juni 2008

  kirim ke teman |   versi cetak


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Formulir Komentar | Aturan >>

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar

 
   
   Pencarian

cari di  
 

   Jajak Pendapat
Setujukah anda Kotogadang masuk wilayah Kota Bukittinggi?.

Setuju
Tidak Setuju


   Top Download
Peraturan Nagari No. 04 Tahun 2002 (2033)
Peraturan Nagari No. 05 Tahun 2002 (1786)
Peraturan Nagari No. 02 Tahun 2002 (1733)
Peraturan Nagari No. 03 Tahun 2002 (1479)
Peraturan Menteri Agraria Nomor 5 Tahun 1999 (1194)
The History of Sumatra (1183)
Laporan Bencana Gempa Bumi Kab. Agam (1107)
Perda Prop. Sumatra Barat No. 09 Tahun 2000 (1100)
Peraturan Pemerintah no. 84 tahun 1999 (954)

   Link Terbaru
Suaro Kotogadang
[Added: 30-Jun-2008]
Minangkabau.Info
[Added: 02-Mar-2008]
Cimbuak.net
[Added: 02-Mar-2008]
Melayu Online
[Added: 02-Mar-2008]
Pemerintah Kota Bukittinggi
[Added: 02-Mar-2008]
Situs Resmi HKI
[Added: 06-Feb-2008]
EraMuslim
[Added: 24-Mar-2007]
West Sumatra
[Added: 05-Sep-2006]
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
[Added: 22-Aug-2006]
Pemerintah Propinsi Sumbar
[Added: 05-Aug-2006]
Tampilkan situs Anda di sini.
» Tambah link baru
» Browse link

   Artikel Terakhir
berita acara serah terima web
Kepengurusan Persatuan Kotogadang Saiyo Padang
BANYAK BABUEK SAKETEK MANGICEK
IKO BARU CURITO
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un
R E N U N G A N
TRADISI IDULFITRI DI KOTO GADANG ALAH PUNAH

   Buku Baru!
Adat Istiadat Kotogadang
Edisi perdana Oktober 2005 Penyusun : Heratina Mahzar
Hubungi : Ibu Hera, tlp. +62 752 31044.

Pakaian Tradisional Kotogadang
Edisi perdana Oktober 2005
Penyusun : Sita Dewi Razni, Mity J. Juni, Rebecca Dahlan.Penerbit : Yayasan Kerajinan Amai Setia
Hubungi: Ibu Sita Razni Tlp. +62 811 144123

   Mailing List
Gabung di milis kotogadang
Powered by: asia.groups.yahoo.com

   Forum Diskusi
Komunitas Kotogadang

 

Powered by SeniRupa.Net. Kotogadang © 2006, Pemerintah Nagari Kotogadang bekerjasama dengan SeniRupa.Net