Friday , 20 October 2017
Breaking News
KATITIRAN DIUJUANG TANDUAK

KATITIRAN DIUJUANG TANDUAK

Waktu berjalan begitu cepat… terasa baru kemaren aku melihat Angku Pakiah di surau Hilia mengaji sementara kami bermain dihalaman mesjid berlarian kesana kemari.

Terasa baru juma`at kemaren Angku Imam dimesjid Tapi berkhotbah diatas mimbar, sementara kami bercanda dengan berbisik-bisik di barisan belakang jemaah ju`mat.

Tidak ada satupun dari kita bisa menahan WAKTU.

Hari ini tanggal 30 januari 2008 disuatu tempat perbaikan mobil duduk seorang pria tua sedang membaca buku. Rambutnya sudah putih, wajah bersih, berpeci. Dari perawakannya masih nampak kegagahan beliau diwaktu mudanya. Untuk daerah Sumatera Barat sampai ke Malaysia mungkin wajah beliau tidak asing lagi…Buya Masoed Abidin, ketua MUI Sumatera Barat yang merupakan salah satu putra dari Angku Pakiah (ALM). Beliau sekarang sudah tua dan aku tidak anak-anak lagi.

Keberanian ku datang, batinku terpanggil untuk bersalaman dan ingin bertukar pikiran. Kesempatan tidak akan dating 2 x… Assalamu`alaikum Buya….?! Wa`aikumsalam w.w jawab Beliau.

Sedikit berbasa basi aku langsung memperkenalkan diri, dari nama.. anak siapa sampai cucu dari siapa, agar beliau bisa mengingat generasi dulu diwaktu beliau berada di Kotogadang. Ingatan beliau sangat tajam bahkan beliau masih ingat tokoh-tokoh agama dimasa dulu di kampung, mulai dari Angku Zalib, Angku Imam, Inyiak Aman (walinagari) dan lain-lain. Bahkan sampai beliau bercerita tentang putra Kotogadang yang menjadi Panglima terakhir Tuangku Imam bonjol yaitu Syeh Abdurrahman yang mayatnya dibuang belanda kedalam ngarai.

Pembicaraan semangkin hangat ketika menyangkut Nagari kecil Kotogadang disebut. Betapa bangganya aku ketika beliau berkata : Ambo tidak akan seperti sekarang ini kalau tidak terminum air Nagari Kotogadang.

Beliau begitu bersemangat ketika membahas Kotogadang dimasa penjajahan dulu sampai merdeka.

Banyak diantara putra-putra Kotogadang yang siap mati dan berkorban untuk Nagari maupun Negara. Ketika Kotogadang dihadapkan kepada masalah pelik menghadapi keadaan waktu itu yang sangat sulit, pergolakan begitu banyak menelan korban baik harta maupun nyawa, Kotogadang berada dalam situasi yang sangat genting. Namun bagi Ninik Mamak dan orang bijak putra-putra Kotogadang waktu itu situasi ini dihadapi dengan OTAK bukan dengan OTOT.

Misi diatur dan dipikirkan bersama hingga situasi yang bagaikan TELUR DIUJUNG TANDUK tadi dijadikan seperti KATITIRAN DIUJUNG TANDUK.

Nagari aman dari ancaman yang datang, bahkan misi bukan hanya menyelamatkan Nagari tapi lebih besar lagi. Para pemuda Nagari dan para intelektual bersama-sama menuntut ilmu dan belajar…. Bahkan sampai kenegeri Belanda.

Hingga Ilmu tadi bisa mengantar mereka untuk memegang tampuk-tampuk pemerintahan dan memegang kunci-kunci penting untuk mengatur dan menentukan. Dengan cara itu terbukti berapa banyak putra Kotogadang yang mengukir nama dalam menentukan dan merintis kemerdekaan Republik ini.

Namun mereka tidak pernah lepas dari nafas islami, sehingga mereka tidak lupa diri dan tidak lupa dengan nagari tempat kelahiran serta tanggung jawabnya untuk Negara. Semua itu pun sudah terbukti dan diakui dunia.

Bung Karno dibuku tamu Kotogadang menulis “ Negeri kecil yang menentukan perubahan Dunia “ ini salah satu bukti pengakuan yang ada.
Disaat itu… Kotogadang memiliki Alim Ulama yang handal, Ninik mamak yang Sadanciang bak Basi saciok bak Ayam, rasa cinta kampung yang sangat tinggi.

Melihat bentuk balai adat dikotogadang yang mereka bangun, melambangkan “ KOTO PILIANG INYO INDAK BUDI CANIAGO ANYO ANTAH“. Suatu falsafah adat yang tidak ada di daerah lain nya di Minangkabau. Disinilah letak istimewanya

Kotogadang. Mereka sudah membuat dan menjalankan DEMOKRASI dari dulu dikampung kecil ini, sementara orang lain meneriakan itu baru sekarang.

Satu-satunya nagari di Minangkabau yang menyatukan kedua kubu dalam satu wadah diatas Balai Adat antara Koto Piliang dan Budi Caniago yang jelas-jelas bertolak belakang. Namun di Kotogadang ini bisa dilakukan dan ada sampai sekarang… Alahuakbar hebat sekali.
Melihat bentuk Balai Adat di kotogadang di kedua ujung ruangan lantai ditinggikan dikedua sisinya. Secara sederhana dalam kehidupan bisa kita artikan ada tempat yang lebih tinggi atau dimuliakan bagi orang yang lebih tua dari pada kita.

Karena itu Balai Adat, berarti ada tempat bagi beliau Engku Datuak yang memang sudah sarat dengan pengalaman, ilmu apalagi umur dan memangku jabatan Datuak di Nagari Kotogadang yang harus di dahulukan salangkah ditinggikan sarantiang dilingkaran Ninik Mamak yang ada… mendapat tempat yang seharusnya.

Saat ini siapa yang meragukann Beliau Engku Dt.Magek Labiah untuk menduduki tempat yang ditinggikan tadi diatas Balai Adat itu ? Dari mulai Ilmu yang dimiliki sampai pengetahuan dan pengalaman beliau sebagai seorang Datuak di Kotogadang, apalagi rasa cinta kampung yang beliau miliki, kalau masalah umur ? Usia beliau sudah 84 tahun…

Dengan kehadiran beliau untuk memutuskan hal-hal penting untuk nagari Kotogadang saya yakin akan dapat meredam semua perbedaan yang timbul dikalangan Ninik mamak. Tapi kenapa beliau tidak pernah dihadirkan untuk hal-hal seperti itu ?

Saya masih ingat dalam acara Halal bi halal warga Kotogadang di Padang Tahun 2007 kemaren, disaat acara sedang berjalan saya tersentak melihat beliau datang memasuki ruangan dengan bersemangat. Semua tau kalau beliau dalam keadaan sakit, dengan sangat terharu saya hentikan acara dan saya himbau kepada seluruh warga yang hadir unuk menyambut beliau. Betapa tergugahnya kami disaat itu melihat semangat yang beliau perlihatkan.

Suatu berkah bagi semua yang hadir karena pada saat itu lengkap seluruh Ninik mamak yang berdomisili di Padang hadir. Mulai dari Be.Dt.Magek Labiah, Be.Dt.Toemangguang, Be.Dt.Bandaro Basa dan Be.Dt.Rangkayo Basa.

Untuk acara yang hanya seperti itu beliau tetap ingin hadir, apalagi kalau acara besar yang menyangkut tugas dan tanggung jawab beliau sebagai seorang Penghulu.

Pemikiran beliau sangat diperlukan, ilmu beliau tentang adat kotogadang sangat matang…

karena waktu tidak bisa kita tahan, dikampung Kotogadang sudah banyak kehilangan orang-orang yang tau tentang adat, yang mengerti tentang kehidupan banagari, maka sudah saat nya bagi kaum CADIAK PANDAI untuk merumuskan secara tertulis ketentuan ADAT SALINGKA NAGARI KOTO GADANG.

Yang akan menjadi pedoman, acuan tertulis bagi Ninik Mamak, walinagari dan seluruh anak nagari dalam menjalani hidup sesuai dengan Norma-norma yang ada di Kotogadang.

Kita yakin hal ini sudah dilakukan oleh para cadiak pandai namun belum dibuat dalam bentuk tertulis. Selagi masih ada tempat bertanya, selagi masih ada yang bisa kita lakukan kenapa tidak dimulai.

Kembali penulis ingatkan “ KITA TIDAK BISA MENAHAN WAKTU”

Supaya Kotogadang tidak berada seperti Talua diujuang tanduak menghadapi keadaan seperti sekarang ini.

Apabila hal ini tidak cepat diatasi dan diselamatkan maka talua diujuang tanduak tadi akan jatuh dan pecah.

Selamat tinggal Kotogadang yang penuh kenangan, yang hanya tinggal nama, NAMUN…. Kalau kita bisa jadikan dia seekor KATITIRAN …. Maka akan selamatlah generasi yang akan datang.

Kotogadang bukan hanya cerita tapi sudah punya pedoman Adat dalam bentuk tertulis.. yang bisa dibanggakan.
ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH.

SYARAK MANGATO ADAT MAMAKAI.

Semoga ini menjadi renungan kita bersama…. Terimakasih Buya Mas`oed.

RG St.Sinaro

SAROK TAPI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top