Sunday , 17 December 2017
Breaking News
H.Agus Salim

H.Agus Salim

oleh : HI.St. Bandaro KaciakH. Agus Salim.
Pendekar “Bijak” dalam Berdiplomasi

Anonim menulis “sebagai tokoh perjuangan, ia punya kadar kualitas yang sulit dicari tandinganya. Terutama kecerdasannya, barangkali termasuk jenius. Semua orang yang pernah bicara dengannya mengakui itu. Mohammad Natsir (alm), tokoh Islam termasyur mengungkapkan, “ kalau kita hendak menggunakan kualifikasi intelektual brilian pada salah seorang putra Indonesia, maka saya rasa yang paling pertama tepat ialah pada Haji Agus Salim”

Tokoh tiga jaman, Prof.DR Ruslan Abdulgani, mengakui, “siapa yang pernah mengenal Oude Heer Salim dari dekat, pasti tertarik oleh nilai isi segala pembicaraannya, yang mencerminkan dua hal, yaitu ketajaman otak dan mendalamya kehidupan keagamaannya,”
Fisiknya biasa-biasa saja, bahkan ukuranya termasuk kecil. Yang tak pernah lupa adalah jengotnya selalu dipelihara dan rokok kretek yang tak pernah berhenti mengepul dari dua bibirnya. Tapi tubuhnya yang kecil, tidak menjadikan dirinya kecil hati berhadapan dengan orang lain. Justru ia tampak gesit dan selalu mendominasi dalam setiap pembicaraan, seolah tidak memberi kesempatan lawan bicaranya mengungkapkan dua atau tiga patah kata.
George McT. Kahin, professor di Universitas Cornell Amerika Serikat, mengungkapkan kesaksiannya sebagai berikut: “Saya mengundang kedua beliau itu bersantap di ruangan pertemuan tenaga pengajar, dan duduk di tengah kedua beliau itu saya terperangah. “ yang dimaksud beliau disitu adalah Ngo Dinh Diem, tokoh perjuangan kemerdekaan Vietnam Selatan, dan Agus Salim. Diem telah dikenal sebagai seorang yang senantiasa merajai setiap percakapan. Percakapan berlangsung dalam bahasa Prancis- bahasa yang paling dimahiri Diem. Namun, Haji Salim tetap mengungguli Diem, berbicara amat fasihnya, sehingga Diem tidak dapat peluang sedikitpun!”`
Lain lagi kesan Mohammad Hatta. Disamping kecerdasan, di mata mantan Wakil Presiden RI pertama ini, kekuatan Salim terletak pada keyakinan, ketangkasan, dan ketegasannya membela suatu pendirian yang sudah diambilnya. Setia kawannya juga besar. Ia sanggup menghadapi berbagai kesuliatan ddengan sabar.
Dengan segala kelebihannya itu, baik lawan maupun kawan jadi segan kepadanya, termasuk Belanda. Di antara tokoh perjuangan, Salim termasuk yang belum pernah meringkuk di penjara. Meskipun kritikan-kritikannya kepada Belanda sangat berani dan tajam. “Saya selalu sangat hati-hati akan jangkauan undang-undang pengusa dan berusaha untuk tidak kena jerat, “kata Agus Salim tentang kiatnya.
Bukan berati tanpa kelemahan, Ia kadang kurang sabar untuk mengupas suatu masalah sampai tuntas,” ujar Hatta.
Tapi kelemahannya yang sungguh mengherankan sebagai mana dicatat Prof, Schermerhorn dari Belanda adalah, Salim melarat sepanjang hidupnya!
Sebagai seorang yang berpendidikan dan berkemampuan tinggi, apalagi ia menjadi pemimpin ternama, agag sulit dipahami bila Salim hidup dalam kemiskinan. Tidak sulit rasanya bila Salim yang menguasai 6 bahasa asing (Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Arab dan Turki ) ini ingin hidup enak dan bergelimang harta. Dengan bekerja di pemerintah Belanda, misalnya, tentu ia akan kaya. Toh itu tidak ia lakukan.

Kukuh

Tahun 1925, ia pernah diminta menjadi pimpinan redaksi harian Hindia Baroe, milik seorang pribumi dan Belanda. Di tangan Salim, Hindia Baroe maju pesat. Tetap karna tulisan-tulisan Salim yang pedas dan tajam mengeritik Belanda, membuat pemiliknya gerah juga . Mereka meminta Salim memperlunak Kritikannya. Tanpa pikir panjang, esok harinya Salim mengundurkan diri dari jabatanya.”Pendapat saya tentang Pemerintah Hindia Belanda dan kebijaksanaannya, saya tidak bersedia ditawar-tawar,” katanya kepada Mohammad Roem yang menanyakan keputusannya itu.
Di Jakarta ia bersama keluarganya tinggal dirumah kontrak yang satu ke rumah kontrak yang lain. Bukan rumah megah di tepi jalan raya, melainkan dirumah jelek di gang-gang sempit dan becek. Di antaranya Salim pernah tinggal di daerah Tanah Abang di Karet , Jatinegara, Gang Kerlonong, Gang Tapekong, Gang Listrik dan banyak lagi. Khususnya di gang Listrik, di sinilah justru mereka hidup benar-benar tanpa listrik, karna tak kuat membayar sewa listrik
Mohammad Roem, orang yang sejak muda dekat dengan Salim menyaksikan sendiri. Salim dan keluarganya pernah tinggal dalam satu ruangan sempit. ”Kopor-kopor bertumpuk di pinggir ruangan serta beberapa kasur digulung , sedangkan di tengah ada ruangan yang bebas untuk duduk-duduk dan menerima tamu,” tutur Roem. Menderitakah mereka? Orang luar melihatnya tentu akan menjawab ya. Tetapi tidak dengan Salim. Ia adalah seorang ayah yang sangat dekat dan sayang pada keluarganya-semua anak-anaknya tidak ada yang disekolahkan di luar, tetapi di didik sendiri. Bukan tak mampu mengongkosi, tetapi karena prinsip. Seorang ayah yang pasrah dan tawakkal juga nampak dari sikapnya yang tenang ketika hendak pindah rumah, namun tak ada uang untuk biaya.”Allah Maha Besar. Kita tentu akan diberi-Nya jalan.”Katanya tenang. Tak lama kemudian datang wesel, kiriman pembayaran sesuatu yangtak di duga-duga.

Dibesarkan Belanda

Boleh di bilang, sejak remaja Salim di besarkan Belanda. Di samping menimba ilmu di sekolah Belanda, ia pernah di bimbing secara khusus oleh Brouwer, seorang guru Belanda yang terpikat kepada kecerdasannya. Semasa menempuh pendidikan HBS di Jakarta, ia juga indekos pada keluarga Belanda bernama Koks. Ayahnya juga termasuk pula pejabat di pemerintah Belanda sehingga hidupnya relatif tidak mengalami penderitaan karena penjajahan. Lalu mengapa ia kemudian berbalik menentang penjajahan Belanda.
Lahir dari pasangan Angku St. Mohammad Salim dan Siti Zainab pada 8 Aktober 1884 di nagari Kotogadang, Kabupaten Agam Sumatera Barat, sebuah nagari yang banyak melahirkan tokoh-tokoh intelektual di Indonesia. Ayahnya adalah seorang Hoofdjaksa (Jaksa Kepala) di Pengadilan Tinggi Riau dan daerah bawahannya. Kedudukan Hoofdjaksa bagi penduduk pribumi termasuk yang berkelas dan sangat terhormat. Itulah sebabnya Salim dan kakaknya bisa di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa.Selama menempuh pendidikan di ELS, prestasi Salim sangat cemerlang. Dalam semua pelajaran, ia mengungguli anak-anak Eropa lainya. Pun tatkala menempuh Hogere Burger School (HBS)- sekolah setingkat SMA khusus anak-anak Eropa di Jakarta. Salim yang punya nama asli Masyudul Haq ini tetap unggul. Pada akhir studi, ia berhasil keluar sebagai lulusan terbaik di HBS se- Hindia Belanda (Jakarta, Bandung dan Surabaya).
Sebenarnya ia ingin melanjudkan studi kedokteran di Belanda, tapi kandas karena tiada biaya. Berbagai upaya dilakukan, diantaranya mengajukan beasiswa dan persamaan status kewarganegaraan sederajat dengan bangsa Eropa, namun gagal juga. Kabarnya, Kartini pernah mengusahakan beasiswa untuk salim, tetapi juga nihil. Disinilah awal titik balik pada diri Salim mulai muncul. Ia mulai tidak senang kepada Belanda yang menjalankan politik diskriminasi.
Gagal berangkat ke negeri Belanda, Salim kembali ke Riau dan bekerja pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Disini ia bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris. Sebagai lulusan HBS, ia mememang menguasai sejumlah bahasa asing: Belanda, Inggris, Perancis dan Jerman. Untuk pemuda seukuran Salim (21 Th), pekerjaan ini cukup mentereng.
Namun lain bagi kedua orang tuanya. Ada sesuatu yang mencemaskan. Di mata kedua orang tuanya, putra kelima dari lima belas bersaudara itu menunjukan tanda-tanda menyimpang dari nilai-nilai masyarakat ketimuran, lebih-lebih Islam. Bahkan tanda-tanda menyimpang itu sudah dirasakan sejak Salim menempuh pendidikan di HBS. Salim sendiri tidak mengelak. Itu sesuai dengan pengakuan Salim ketika memberi kuliah di Cornell University Amerika Serikat tahun 1953.”Pendidikan HBS telah berhasil menjauhkannya dari Islam “, akunya. Setelah lima tahun di HBS, Salim merasa tidak dapat berpegang kepada salah satu agama apapun secara sungguh-sungguh. Hanya karena keluarganya termasuk taat beribadah, maka dalam berislam seakan-akan ia hanya melanjudkan tradisi. Saat itu ia melihat agama hanya sebagai sesuatu yang dibutuhkan oleh orang yang kurang terdidik kalau tidak, orang bakal memasuki jalan sesat.
Dalam kondisi iman yang labil seperti itu, datanglah tawaran dari pemerintah Hindia Belanda untuk bekerja di Konsulat Belanda di Jedah, Arab Saudi. Atas dorongan orang tuanya, Salim pun berangkat ke Jedah pada tahun 1906 dalam usia 22 tahun. Orang tuanya berharap, selama di Arab Saudi itu, Salim bisa kembali memulihkan imannya Apalagi di sana ada pamannya yang menjadi guru besar sekaligus imam di Masjidil Haram, yakni Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabauwi, seorang ulama besar asal Minangkabau yang kini mungkin tidak ada yang dapat menyamai reputasi beliau.
Namun, selain orang tuanya, ternyata Prof Snouck Hurgronje juga berperan besar atas keberangkatan Salim Ke Jeddah itu. Dalam pertemuanya dengan Salim tahun 1906 di Jakarta, orientalis terkenal itu menyarankan Salim agar tidak usah melanjudkan studi kedokteran. “Kerena menjadi dokter itu bayarannya kecil;” ujar Hurgonje yang lantas menawarkan gagasan yang menurudnya lebih baik. Di mata Hurgronje, Salim adalah seorang intelektual muda yang sangat cerdas dan fikirannya tajam serta punya keberanian yang luar niasa untuk ukuran orang melayu. Maka atas anjuran Hurgronje pula pemerintah Hindia Belanda menawarkan pekerjaan di konsulat Jeddah. Disana Salim bertugas sebagai ahli penterjemah dan mengurusi jemaah haji asal Indonesia.
Terkabul harapan orang tua Salim. Disamping bekerja, Salim tekun mendalami Islam kepada Sych Ahmad Khatib, yang juga menjadi gurunya adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadyah. Saat itu, Syech Ahmad terkenal sebagai salah satu tokoh pembaharu dari manzhab Iman Syafi’i
Sebagai orang yang pernah mendapat gemblengan dari sistim pendidikan barat dan berpengetahuan umum cukup luas, Salim menerima pelajaran dari pamannya dengan sikap kritis. Syech Ahmad meladeni pertanyaan muridnya itu dengan arif dan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot. Itulah yang membuat roh Islam menancap kokoh di sanubari Salim. Islam bagi Salim bukan lagi sebagai warisan semata, tetapi sudah dilandasi pemahaman yang mendalam. Ajaran Islam yang memang menentang penindasan atas manusia, apa lagi saat itu Muhammad Abduh, intelektual dari Mesir, sedang gencar-gencarnya melancarkan pembaharuan islam. Gerakan Abduh ini berpengaruh luas di dunia Islam dan membangkitkan negara-negara Islam yang masih banyak dihimpit kaum penjajah.
Salim kembali ke Tanah Air pada 1911. Sempat lima hari bekerja di Kantor Pekerjaan Umum Jakarta, Salim lantas mengundurkan diri dari pegawai pemerintah Hindia Belanda. Ia kemudian kembali ke Kotogadang mendirikan sekolah dasar HIS. Tahun 1915 ia kembali ke Jawa dan tak lama kemudian ia menceburkan diri ke dunia pergerakan lewat Serikat Islam (SI)

Pemberi Cap Islam di SI

Sejak masuk Serikat Islam (SI), peran Salim cukup besar. Bahkan dalam perjalannya, Salim pernah menjadi tangan kanan pimpinan utama SI, yakni HOS Tjokroaminoto. Keduanya punya kelebihan dan kelemahan yang saling melengkapi. Tjokro dikenal sebagai pemimpin yang kharismatik, sedangkan Salim adalah tokoh intelektual Islam yang luas pengetahuanya.
Menurut Derliar Noer, didalam bukunya Gerakan Modern Islam Indonesia, Salimlah yang lebih banyak memberi cap Islam pada SI.”Salim bukan saja yang mengetahui pikiran-pikiran Barat, tetapi dialah pimpinan SI yang paling mengetahui tentang Islam dari sumber aslinya,” tulis Deliar. Berbeda dengan Tjokroaminoto. D.A Ringkes, penasehat Bumiputra yang sering mengadakan perjalanan bersama Tjokroaminoto menilai, “Tjokroaminoto lebih merupakan priayi yang berpaham bebas daripada seorang Islam yang fanatik.”
Peranan Salim di SI sangat menonjol terutama alam merumuskan kebijakan dan strayegi perjuangan organisasi. Hal itu tampak saat ia berusaha membersihkan orang-orang PKI yang mulai menyusup ke tubuh SI. Usaha pembersihan itu terkenal dengan istilah “Disiplin Partai”. Pertentangan PKI dengan Islam di SI sudah mencuat sejak tahun 1917. PKI diwakil Dharsono, dan Semuan dari cabang Semarang, sedang Islam diwakili Agus Salim dan Abdoel Moeis. Sikap Tjokroaminoto sendir tampak kurang tegas terhadap konflik tersebut. Ia lebih mengutamakan persatuan di tubuh SI ketimbang perbedaan yangmenurutnya bukanlah sesuatu yang prinsip. Berbeda dengan Salim. Ia berpendapat masalah PKI sangatlah prinsip, karena menyangkut Kaidah.
Perdebatan sengit antara PKI dengan Salim tak terelakan saat digelar Kongres Luar Biasa SI ke-61 di Surabaya tahun 1921. Dua agenda besar dibahas dalam kongres : masalah disiplin partai dan penegasan asas SI . Soal diazas Salim menyatakan : “ tidak perlu isme-isme yang mengobati penyakit gerakan. Obatnya ada dalam asaz sendiri, asas yang lama dan kekal, yang tidak dapat dimubahkan orang, sunguhpun sedunia telah memusuhi dengan bentuk permusuhan lain. Asas itu adalah Islam.”
Dalam hal PKI, Salim meminta Kongres mengeluarkannya dari SI. Sambil mengutip ayat Al-Qur’an, salim menegaskan, “Di dalam Al-Quran terkandung perintah yang melarang kita bersaudara, yaitu berikatan lahir batin dengan orang yang tidak sama berkeyakinan dengan kita. Karena meraka akan selalu menjerumuskan kita dan mereka suka bila kita tertimpa bencana.”
Menanggapi Salim, semua menjawab bahwa SI perlu taktik yang lebih luas. Selama ini, katanya SI hanya mampu mengumpulkan orang Islam saja buat bekerjasama-sam membela hak rakyat. Padahal, selain Islam masih ada orang lain yang jumlahnya tidak sedikit. “PKI sudah nyata bisa membawa orang-orang Ambon, Manado, dan lain-lain rakya Hindia yang tidak beragama Islam. Bilangan mereka tidak sedikit, pengaruhnya harus pula dihargai . Disini PKI sudah membuktikan taktiknya, bekerjasama dengan orang Kristen guna keperluan rakyat.”
Akan tetapi, semua argumentasi dalam pembelaan Semaun dapat dipatahkan salim dan Moeis. Dalam kongres itu salim telah menunjukan dirinya sebagai pemimpin Islam yang tangguh, yang tidak saja menguasai ilmu-ilmu Islam, melinkan juga pemikiran-pemikiran Barat seperti Komunisme.Sehingga argumentasi Salim dalam perdebatannya dengan golongan Komunis sangat tajam. Kongres akhirnya mesahkan keputusan disiplin partai dan Islam sebagai asas SI. Akibatnya PKI harus keluar dai SI. Tak lama kemudian, Salaun dan Darsono,membentuk SI sendiri yang dikenal dengan sebutan “ SI Merah”.
Tahun 1934 Tjokroaminoto meninggan dunia. Salim menggantikannya sebagai ketua umum SI.Setelah itu peran Salim di SI surut, seiring dengan konfliknya dengan Aboekosno.Pokok utamanya adalah garis partai. Salim mengusulkan agar garis kebijaksanaan SI dirubah,dari non kooperatif menjadi kooperatif. Pertimbangannya ,demi menyelamatkan SI sendiri.Soalnya pada tahun – tahun itu sudah mulai bertinadak keras, terhadap pihak – pihak penentangnya.Tetapi karena usulannya itu Salim disingkirkan Aboekosno dari SI.
Tahun 1936, Salim bersama Sangadji membentuk Barisan Penyadar. Setelah pertai Masyumi muncul pasca kemerdekasan saling bergabung dengan partai politik terbesar yang pernah dimiliki umat Islam Indonesia itu.
Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, pada tahun 1953, ia mengarang buku dengan judul “ Bagaimana Takdir, Tawaqal dan Tauhid harus dipahamkan ?”. Yang lalu diperbaiki menjadi keterangan filsafat tentang Tauhid, Takdir dan Tawaqal.
Salim meninggal dunia pada 4 November 1954 pada usia 70 tahun di RSU Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta dan mendapat gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional tahun 1961. Salim meninggalkan 7 anak dan seorang istri bernama Zainatun Nahar Almatsier.

Diceritakan kembal oleh HI, dari Titian Kaba 02/10/06 ( FZ/tk dan berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top